Jalan-Jalan di Singapura Part 2 (Hari Ketiga dan Keempat)

0 comments

26 Agustus 2014

Hari ketiga kami memutuskan fokus di Universal Studio Singapore, karena banyak yang bilang menghabiskan waktu seharian untuk antri di wahananya. Kami beruntung kesana pada hari selasa bulan weekend, jadi tidak begitu ramai meskipun juga tidak sepi. Untuk memasuki wahana kami tidak perlu mengantri terlalu panjang.

Untuk menuju ke USS, kami naik dari stasiun MRT Clark Quay dengan satu kali jalan tanpa transit dengan melalui rute berikut :
Clark Quay – China Town – Teluk ayer – Outram Park – Harbourfront

Ada 2 pilihan untuk menuju USS dari stasiun MRT Harbourfront yaitu melanjutkannya dengan naik MRT lagi atau cable car, untuk naik MRT kita menuju ke Vivo City di lantai bagian atas. Biaya naik MRT ke USS +/- SGD 2. Karena disini kami berniat untuk mencoba hal hal baru kami memutuskan untuk naik cable car. Biaya untuk naik cable car lumayan mahal yaitu +/- SGD 30, namun kami mendapatkan potongan harga menjadi +/- SGD 25 dengan menunjukkan boarding pass kami. Oleh karena itu saya sarankan bagi teman-teman untuk selalu membawa boarding pass kemana-mana, ada beberapa hal yang membutuhkan ini untuk dapat potongan harga.


Dengan biaya tersebut kami mendapatkan tiket pulang pergi, oh ya untuk naik cable car kami harus keluar dari Vivo City menuju gedung Harbourfront Tower 2.

Sebelum ke USS, kami berhenti di Faber Peak untuk melihat-lihat pemandangan disana, sekedar foto-foto dan menikmati sejuknya “hutan” di Singapura.


Universal Studio Singapura
Turun dari stasiun cable car Pulau Sentosa kami menaik bis untuk menuju ke USS. Kami memasuki USS dengan tidak melewatkan foto-foto di depan icon USS yaitu bola dunia jumbo yang ada di depannya. Sementara itu untuk saya pribadi ketika masuk ke dalam hanya berani mencoba wahana yang aman dan tidak menakutkan. Eits, karena buta wahana ada saja wahana yang membuat saya takut setengah mati. Beberapa wahana yang saya coba antara lain :

1. Madagaskar 
Kalo ini tidak lebih dari sekedar naik kapal kemudian basah-basah, saya suka yang ringan-ringan kayak gini,hahha. Selain itu teman-teman mencoba komidi putar, dan bisa ditebak saya cuma duduk di samping wahana sebagai juru foto mereka.

2. Jurassic Park
Terdiri dari beberapa wahana dan seperti biasa saya memilih yang naik kapal-kapalan dan tidak berani mencoba yang terlalu ekstrim. Yang saya pilih semacam Arum Jeram di Dufan tetapi menggunakan konsep alam dari Jurassic Park. Dan tentu saja kalo sama persis dengan Dufan namanya bukan USS karena di akhir perjalanan ada “kejutan” yang membuat kita kembali berpikir, ini bukan Dufan! Tidak perlu saya ceritakan, cukup dicoba sendiri.

3. 4D Shrek
Awalnya agak bingung dengan wahana ini, karena kita cuma dikumpulkan di sebuah ruangan. Karena cukup lama saya dan teman-teman bertanya-tanya, mau diapakan kita ini. Jangan-jangan mau di acak-acak di dalam ruangan,hahaha. Dan akhirnya kami pun disuruh berbaris untuk memasuki ruangan lain. Dan akhirnya kami menikmati bertunjukkan 4D Shrek, mmm bagi saya ini keren banget karena 4D terakhir yang saya coba adalah di BNS jadi tentu saja tidak bisa dibandingkan,hahha.

4. The Mummy
Haduh kalo yang ini bener-bener deh. Feeling saya nggak enak ketika masuk, selain karena saya takut banget sama yang berbau horor juga takut akan kecepatan dan ketinggian (bener-bener mental lemah ya,hahaha). Tapi ya akhirnya saya mencobanya dan alhamdulillah saya tidak menyesal meskipun setelah itu saya mengalami super shocking begitu keluar dari wahana. Teman saya berkali-kali bertanya? Kamu ngga papa kan Ran? Saya cuma bisa menelan ludah berusaha untuk tidak muntah,hahhaa.

5. Transformer
Kalo yang ini menjadi favorit saya bersama teman-teman yang lain, meskipun saya udah mual mual gara-gara di The Mummy, saya cukup menikmati wahana ini. Very recommended dan yang paling penting sama seperti wahana lainnya kami tidak megantri panjang. Konon katanya kalo weekend atau hari senin, antrian semua wahana dijamin panjang apalagi untuk Transformer. Meskipun demikian ada teman saya yang rela mengantri 2 kali saat weekend untuk wahana ini. Dan tentu saja teman-teman saya kali ini juga demikian, meninggalkan saya yang memutuskan untuk tidak antri lagi karena rasa mual yang tak kunjung usai setelah The Mummy sebelumnya. Akhirnya saya putuskan menunggu di area World Premier, beberapa saat kemudian ternyata ada pertunjukkan street dance.

6. Street Dance
Hal yang saya sukai ketika melihat pertunjukkan ini adalah komunikasi penari dan penonton, karena kalo sekedar kemampuan menari K-Pop masih jadi standard saya. Interaksi penari dan penonton membuat kita merasa seperti “kita memang sedang di luar negeri ya”. Lucu sekali melihat tingkah dan keberanian anak-anak dari seluruh penjuru dunia.

7. Steven Spielberg
Saya lupa apa nama wahananya, yang jelas ada hubungannya sama Pak Steve. Disini ya semacam dikasih lihat efek-efek dalam film di Hollywood
Menjelang sore/malam kami pun memutuskan pulang, dengan kaki pegal-pegal dan tentu saja lapar. Tapi hati puas luar biasa, menuju ke stasiun cable car pulau sentosa kami kembali menaiki bis dari royal casino. Karena kelelahan dan bis cukup sepi, saya menyelonjorkan kaki. Kami mengobrol di dalam bis kemudian Pak supir yang tau bahasa kami, menebak kami dari Indonesia. Hal yang menyenangkan ketika liburan di sini adalah kami sangat dihargai sebagai Turis.

- Vivo City
Perut sudah mulai keroncongan tapi seorang teman masih gelap mata pengen beli baju, setelah puas kami pun menuju foodcourt. Terjadi miskomunikasi disini, berdasarkan info teman Vivo City ada foodcourt kusus muslim, tapi tempat yang ditunjukkan beda karena masih ada yang jual babi. Awalnya agak ragu, tapi karena kaki sudah gempor dan akhirnya nemu kedai denga tulisan no pork, no lard kami putuskan untuk tetap tinggal. Ada Java Kitchen dsini, jadi saya bisa bernafas lega dan tanpa ragu saya pun memesan tahu tek yang akan menjadi tahu tek termahal sepanjang hidup saya. Haganya SGD 5, yang kalo dibelikan di Gebang Lor Surabaya jaman dulu udah bisa dapat 10. Tapi rasanya alhamdulillah tidak mengecewakan.

Oh ya untuk solat, di vivo city ada tempat untuk sholat. Dan saran saya untuk sholat, sebaiknya disegerakan. Bagi saya ini adalah pelajaran yang berharga, karena saya kelewatan dan saya sangat menyesal....
Kadang-kadang kita lupa di negara lain tak semudah di negara sendiri untuk menemukan mushola, jadi jika ada kesempatan, tempat dan waktu jangan pernah dilewatkan.

27 Agustus 2014

Di hari ke empat ini waktu sangat singkat untuk kedua teman saya dari Surabaya, sementara saya pulang termasuk sangat malam. Karena yang pesan tiket ini adalah teman saya yang membatalkan keberangkatan, jadi saya bakal balik sendirian. Sebelum itu, kami berempat ingin menikmati beberapa tempat wisata yang sebelumnya telah kami kunjungi di malam hari.


Singapore River, Anderson bridge, Cavennah Bridge
Sepanjang perjalanan ke Merlion dari penginapan kami selalu disuguhi pemandangan yang indah, karena kami berangkat lebih bagi suasananya benar-benar sangat menyenangkan disini. Sekali lagi kami merasa tidak salah dalam memilih penginapan.

Merlion dan Marina Bay San di Pagi Hari
Karena kami berempat punya bakat jadi poto model, jadi bagi kami semua sesi foto adalah hal yang tidak bisa dihindari. Apalagi poto-poto di icon negara ini, kami merasa harus punya 2 versi, yaitu siang dan malam supaya dapat feelnya. Karena teman saya yang dari Surabaya harus ke Changi sebelum jam 10, akhirnya kami pun berpisah, mereka kembali ke penginapan dan kami berdua melanjutkan perjalanan.

Lau Pa Sat dan Shenton Way
Sebelum saya bekerja di perusahaan saya yang sekarang saya bekerja di salah satu perusahaan swasta di bagian ekspor, bahasa kerennya sih Marketing International tapi saya yang payah ini merasa tidak pantas disebut demikian dan Marketing Ekspor sepertinya lebih cocok. Ketika saya masih disana dulu, ada semacam peraturan tidak tertulis tentang penugasan pegawai ke Singapura sebagai trader. Jadi ceritanya dulu, saya sangat ngarep dikirim ke luar negeri sama perusahaan. Tapi karena saya lebih dulu terpanggil untuk menerima pekerjaan yang sekarang, saya belum sempat untuk menunaikan tugas tersebut.

Jadi ceritanya teman yang masih di sini sama saya, sama-sama mantan di perusahaan lama karena dia lebih senior jadi dia sudah pergi kesini sebelumnya. Setelah dari Merlion dan Marina Bay kami menuju Lau Pa Sat dan Shenton Way. Di Merlion ada papan penunjuk jalan menuju ke Lau Pasat.

Kami melewati Lau Pasat dan lebih dulu ke Shenton Way. Shenton Way adalah gedung dimana perusahaan kami dulu bermukim. Menyempatkan waktu sebentar untuk mampir, bagi teman saya ini adalah nostalgia, sedangkan ini adalah semacam mewujudkan impian yang sempat tertunda. Lau Pa Sat adalah semacam pujasera di Singapura, dengan bangunan khasnya yang lawas dan harga yang cukup terjangkau tempat ini dijadikan tujuan makan siang bagi para pegawai di sekitar sana. Di sana saya tidak membeli makanan hanya es tebu yang kalau tidak salah berharga +/- 1 SGD dan pastel isi tuna yang kami beli di daerah Shenton Way. Pastel ini adalah sarapan favorit teman saya selama 2 minggu disana.

Garden By The Bay Siang Hari
Setelah puas jalan-jalan dan bernotalgia, kami mencari stasiun MRT terdekat yang menuju ke Garden By The Bay. Sesampainya di Garden By The Bay, kami langsung beli tiket seharga SGD 5 dan naik ke atas. Meskipun sudah kesini ketika malam hari kami tetap sangat menikmati siang itu, apalagi kami sampai naik ke atas. Meskipun teman saya yang sebenarnya fobia ketinggian ini awalnya mewek, akhirnya ia tersenyum saat di foto. 


Perjalanan selanjutnya tentu saja balik ke Hostel, karena pesawat teman saya sore hari. Meskipun pesawat saya malam saya juga ikut balik daripada sendirian kayak orang ilang.

Kembali Ke Changi
Selanjutnya kamipun kembali ke Changi, sementara teman saya langsung check in dan boarding saya menunggu di Bandara. Menikmati suasana disana, menikmati manusia dari berbagai penjuru dunia berjalan lalu lalang, dengan gaya yang sangat beragam. Sejak kecil saya sudah jatuh cinta sama Bahasa Jepang dan kebetulan sebelah saya berkumpul sekeluarga dari Jepang yang juga sedang menunggu pesawat. Bahkan percakapan mereka pun bisa saya nikmati,hahaha.

Nikmatilah kebahagiaan kecil yang kamu peroleh, supaya bisa menghargai kebahagiaan yang lebih besar.

Ketika boarding dan ada di ruang tunggu, saya baru bisa pake wifi. Sempet deg2an karena bawa pulang minyak wangi, tapi alhamdulillah akhirnya lolos. 

Dan esok haripun dunia nyata menanti.

"A thousand miles begins with a single step" Lao Tsu

Tags : Culinary. Traveling, Singapura

Jalan-Jalan di Singapura Part 1 (Hari Pertama dan Kedua)

0 comments
24 Agustus 2014

Changi Arport
Kami sampai di Singapura +/- pukul 9/10 pagi waktu setempat, rombongan dari Surabaya datang lebih dulu dari kami yang dari Jakarta. Awalnya kami janjian sesampainya sana kami akan berhubungan dengan bbm menggunakan Wifi Bandara, tapi sayang masing-masing dari kami kesulitan mencari tau password wifi. Untungnya tak lama kemudian saat saya jalan menuju pemeriksaan imigrasi saya melihat dua teman saya lagi duduk dan melihat saya. Ketika melihat kami, mereka berdua langsung memasang wajah lega ternyata mereka tidak bisa menembus pemeriksaan imigrasi karena tidak bisa menyebutkan tempat dimana mereka akan menginap.

Setelah bertemu dan menulis formulir pemeriksaan imigrasi kami berhasil masuk kemudian mencari jalan untuk ke stasiun MRT terdekat. Tidak semua dari kami newbie, salah satu teman saya sebelumnya sudah pernah ke Singapura tetapi karena dengan biaya kantor ia tidak perlu repot mencari stasiun MRT dan naik taxi. Sempat muter-muter di Changi dan akhirnya menemukan Sky Train menuju Stasiun MRT Changi.  Selain membeli EZ link (kartu untuk naik MRT dan Bus) seharga SGD 12 kami juga mengambil peta MRT sebagai pedoman kami selama disini. Kami menuju Stasiun Tanah Merah dan karena keasyikan ngobrol dan poto-poto, kami tidak menyadari kalau MRT yang kami tumpangi kembali lagi ke Changi (ya sudahlah,hahaha).

Tempat pertama yang kami tuju adalah penginapan di daerah Boat Quay, sempet ke MRT City Hall untuk menuju penginapan, tapi katanya masih jauh kalau harus jalan kaki. Mbak Mbak disana menyarankan kami naik MRT lagi dan turun di MRT Raffles Place untuk menuju Boat Quay. Setelah berputar-putar dan kecapekan kami menemukan penginapan kami, sepanjang jalan ke hostel pemandangannya cukup bagus dan bisa disebut “memang seperti di luar negeri”.

Kampung Bugis
Kami sampai di penginapan +/- pukul 12 siang, petugas resepsionis mengatakan kami baru bis check in jam 14.00  (meskipun kami check in onine jam 13.00), ada 2 pilihan menunggu atau nitip barang kemudian jalan-jalan. Agar tidak membuang waktu kami putuskan untuk menitipkan barang-barang kemudian pergi jalan-jalan. Karena masih jelek dan belum mandi, kami pergi ke tempat wisata yang ngga butuh poto-poto pilihan jatuh pada Bugis Market untuk membeli oleh-oleh.
Cara menuju Bugis Market dari 5footwayinn Boatquay dengan MRT :
Raffles Place – City Hall – Bugis

Target awal adalah membeli oleh-oleh sejenis kaos, gantungan kunci dan lainnya tapi akhirnya kami keblinger sama baju-baju disana. Dan jangan lupa menawar ketika beli baju. Setelah puas berbelanja oleh-oleh kami menuju Mustafa, konon kata teman-teman sejawat disinilah surga untuk membeli coklat.

Mustafa
Mustafa terletak di kawasan Little India, jadi tidak heran kalau disana dipenuhi dengan Warna Negara Singapura keturunan India. Mustafa sendiri adalah supermarket yang didirikan oleh WN Singapura keturunan India.

Marina Bay Sands dan Merlion di Malam Hari
Sepulangnya dari Mustafa Center ke Hostel kami mulai membersihkan diri dan mempersiapkan perjalanan selanjutnya. Karena lokasinya yang juga dekat dengan Hostel, kami putuskan untuk menikmati kawasan Merlion dan Marina Bay Sands di malam hari dengan berjalan kaki dari Hostel. View malam hari cukup indah ditambah dengan festival laser dan air mancur yang disajikan langsung dari Marina Bay Sand.

25 Agustus 2014

Botanic Garden
Pagi itu hujan cukup deras untuk membasahi baju kami, kami yang sebelumnya berencana pergi ke Universal Studio akhirnya memutuskan kembali ke Hostel dan memikirkan rencana ulang. Iya, akhirnya kami memutuskan pergi ke Botanic garden karena selain lokasinya yang lebih dekat daripada USS, waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan mungkin akan lebih pendek dibandingkan jika kami pergi ke USS dengan tujuan mencoba semua wahana yang ada disana. Selama membaca itenary beberapa pelancong dan dari cerita teman, sangat sedikit sekali turis Indonesia yang mengunjungi Botanic Garden. Banyak alasan yang mendasarinya, salah satunya mungkin karena Singapura lebih dikenal sebagai surga belanja dengan tata kota yang wah dan canggih sehinga sangat sedikit yang ingin mengunjungi Kebun Raya disana. Bagi saya sendiri sebagai pecinta tanaman, tentu saja tempat ini adalah salah satu tujuan utama saya. Dan ketika kami keluar, hujan mulai mereda meninggalkan gerimis kecil menyapa.

Cara menuju Botanic Garden dari 5footwayinn Boatquay dengan MRT :

Raffles Place (jalur biru) kemudian transit di Promenade (ganti jalur kuning) menuju MRT Botanic Garden. Antara Promenade dan Botanic Garden melewati beberapa stasiun MRT.

Turun dari stasiun Botanic Garden kami disambut hamparan hijau rumput yang cukup terawat dengan baik. Sebenarnya ini adalah kebun raya Bogor versi Singapura tentu saja yang ini dengan perawatan ekstra. Untuk masuk kesini tidak dikenakan tiket alias gratis kecuali jika ingin masuk ke Orchid Garden, tiket masuk seharga SGD 5.


Anggrek yang ada di Orchid Garden Singapura sebenarnya banyak yang berasal dari Indonesia yang ironisnya tidak saya temukan di Kebun Raya Bogor atau mungkin memang belum berkembang saat saya kesana jadi saya tidak mengenali bunganya. Sekali lagi saya terwonder-wonder dengan perawatan bunga yang ada di Botanic Garden Singapura.

Kami mulai kelelahan menyusuri Botanic Garden sampai akhirnya mencari papan penunjuk jalan untuk ke Orchad Road. Jarak yang kami tempuh cukup jauh dengan jalan kaki, meskipun ketika kami bertanya pada petugas sekitar mereka menjawab jarak jalan kaki ke pintu keluar cukup dekat (sepertinya jarak jalan kaki orang Indonesia dan Singapura jauh berbeda ya). Dan akhirnya kami pun menemukan pintu keluar dan perjalanan belum selesai sampai disana.

Orchad Road
Keluar dari Botanic Garden hujan mengguyur cukup deras, kami berlari ke arah halte busway terdekat dan mencari Bus untuk menuju Lucky Plaza yang ada di kawasan Orchad Road. Tidak perlu khawatir, cukup banyak pilihan bus untuk menuju Lucky Plaza kita hanya perlu membaca peta bus di halte dan bertanya kepada driver. Meskipun tetap saja akhirnya kami salah turun di halte yang jauh dari Lucky Plaza. Thats not a problem at all, karena kami menikmati perjalanan ini. Mencari oleh-oleh, makan dan jalan-jalan adalah tujuan kami disini. Isinya mall semua, tapi tidak perlu khawatir kita justru bisa menemukan makanan yang enak dan murah disini.

Fish Soup dengan tulisan No Pork and No Lard seharga +/- SGD 5 cukup memuaskan lidah dan kantong kami. Akhirnya kami menemukan makanan yang benar-benar bisa kami nikmati. Setelah kami puas makan, beli oleh-oleh dan jalan-jalan kami pun mencari masjid yang ada di wilayah terdekat. Salah satu pegawai toko mengarahkan kami untuk pergi ke masjid Al Falah yang katanya dekat dengan lokasi. Dan sekali lagi kami menyadari bahwa standard jauh dekat WNI dan WN Singapura sepertinya memang jauh berbeda. We’re so tired!

Masjid Al Falah
Setelah berjalan jauh, berputar dan bertanya kesana kemari akhirnya kami menemukan masjid Al Falah yang berada di kawasan Orchad Road. Cara untuk mengingatnya jika saya harus datang kesini lagi adalah ada ornamen warna kuning di dekat perempatan arah masuk menuju masjid. Sesampainya di masjid kami pun beribadah dan beristirahat sejenak sampai waktu solat maghrib dan berniat melanjutkan berjalanan ke Garden By The Bay meskipun sebenarnya kami sangat lelah.
Cara menuju Garden By The Bay dari Orchad Road dengan MRT :
Orchad Road menuju Marina Bay (jalur merah) selanjutnya transit di Marina Bay menuju Bayfront (Jalur Kuning)

Garden By The Bay di Malam Hari
Kami berjalan kaki dari stasiun Bay Front menuju lokasi Garden By The Bay, sempat naik ke tangga menuju Marina Bay Sand dan masuk kesana tapi kami tidak diijinkan masuk lebih jauh tentu saja karena kami bukan tampu hotel. Kami sampai di Garden Bay The Bay pad malam hari, karena waktu habis untuk foto-foto dan berhenti sesekali untuk menikmati pemandangan akhirnya ketika kami akan membeli tiket untuk baik ke atas dan loket sudah tutup. Langit sudah gelap dan akhirnya kami memutuskan menikmatinya di bawah dan ternyata itu keputusan tepat. Sesaat kemudian musik menyala dan lampu-lampu di pohon buatan itu mulai bergonta-ganti warna, benar-benar indah. Kami dengan santainya memutuskan berbaring di bawah pohon untuk melihat pemandangan mengagumkan yang berada tepat di atas kami tanpa mempedulikan apakah baju kami akan kotor. Dan ajaibnya cara kami diikuti oleh orang-orang yang sedang ada disana, entah karena kami yg memulai atau memang kebanyakan memang seperti ini sebelumnya.

Setelah cukup puas menikmati Garden By The Bay di malam hari kamipun pulang menuju penginapan.

Tags : Culinary, Singapura, Traveling

Review Penginapan di Singapura : 5footwayinn Project Boat Quay

0 comments
Setelah baca dimana-mana dan tanya sana sini akhirnya kami (saya lebih tepatnya) memutuskan untuk menginap di 5footwayinn Boat Quay. Kami putuskan untuk tidak berpindah hostel selama ada disana untuk efisiensi waktu. Saya dapat rekomendasi dari dua orang teman, yang pertama adalah mbak Vika yang pernah menginap di 5footwayinn China Town Project dan sahabat saya kuliah si Ega yang memang pernah menginap disini selama 2 hari. Keduanya saya kenal punya pengalaman dan selera yang cukup bagus untuk penginapan.

Kami booking tanggal 05 Agustus 2014, kurang lebih 3 minggu sebelum berangkat. Saya langsung booking ke webnya langsung di www.5footwayinn.com/links/project-boat-quay.html untuk harga yang lebih murah mungkin bisa booking jauh-jauh hari di web promo semacam agoda atau yang lain. Kami disana berempat jadi kami memesan kamar dengan isi 4 orang, di web saya baca bahwa kamar yang isinya 4 orang itu tulisannya superior room dan disana ada keterangan “with window” alias pake jendela. Jadi meskipun hostel jangan bayangkan kamarnya pengap gtu, karena kamar kami langsung ngadep ke jendela dan pemandangannya woww banget. Kamar kami langsung menghadap Singapura River dan view langsung ke Marina Bay. Absolutely great room! Beberapa point yang [erlu diperhatikan terkait hostel ini :

1. View
Salah satu alasan kenapa saya memilih menginap disini adala karena viewnya yang menggoda, langsung menghadap ke Marina Bay. Berhubung saya belum mampu nginep di Marina Bay ya cari penginapan yang bisa memandang langsung salah satu icon Singapura tersebut.

2.    Lokasi
 Nah ini juga jadi point penting kenapa saya milih nginep disini meskipun mahal (jika dibandingkan hostel lain, bahkan dibanding project 5footwayinn yang lain). 5footwayinn Boatquay beralamat di 76 Boatquay Singapura. Lokasinya dekat sekali dengan Merlion Park, Cavenah Bridge dan lain-lain semua bisa dijangkau dengan jalan kaki 5-10 menit. Stasiun MRT terdekat ada dua yaitu Rafles dan Clarke Quay jadi kalo mau kemana-mana tinggal pilih dua stasiun itu. Keluar dari penginapan ke arah kanan kita menuju Rafles sedangkan ke kiri kita ke stasiun Clake Quay. Jangan lupa tanya ke resepsionis sebelum berangkat karena ini akan membantu kita memilih jalur trasnportasi yang tepat. Oh ya disini juga bisa di dapat tiket Universal Studio yang lebih murah dibanding di USSnya. Disini saya dapat SGD70 sedangkan di USS SGD 74.

3.    Makanan


Hostel menyediakan sarapan berupa roti dan buah tetapi tidak untuk makan siang dan makan malam. Tapi jangan kuatir, dekat penginapan terdapat Mc D yang bisa kita datangi kapan saja karena ini 24 jam. Asalkan ngga bosan kita bisa mampir kesini saat lapar menyapa dan merasa kesulitan untuk cari makanan yang familiar di lidah dan murah (range harga 3-5 SGD). Oh ya mohon maaf saya tidak memperhatikan label halal disana karena saya berpikir sama kayak di Indonesia, saya baru sadar ketika tidak ada nasi disana artinya setiap negara pasti beda penyajian ya (bodo banget saya). Kalo ga ada labelnya plg ngga bisa pesen kentang dan burger tanpa daging untuk ganjal perut. Smoga halal, Wallahualam.. Tentang halal menghalal bisa juga dipilih makanan di pinggir Singapore River meskipun tidak sehat untuk kantong tapi beberapa penjual ketika melihat saya yang pake kerudung mengatakan makanannya halal. Saya sempat mencoba dan ternyata harganya memang fantastis, lha wong cah kangkung aja kalo di kurs kan harganya bisa sampe 200rb bo’ gimana ngga nangis saya liat daftar menunya....

4.    Harga 
Nah kalo harga bisa langsung dicek di webnya. Tapi untuk saya sendiri, ketika ngitung harga penginapannya ternyata lumayan bo’. Seperempat uang saku slama disini bisa habis untuk penginepannya aja. Jadi ini rinciannya :

Catatan :
Booking diatas untuk 4 orang, selama 3 malam
-    Untuk hari minggu rate hostel lebih mahal yaitu SGD 176 (hari biasa SGD 160)
-    Yang harus dibayarkan saat booking sebesar USD 52,16 (yang ini US dollar ya)
-    Yang harus dibayar saat check in adalah SGD 436,48.

Sesampainya disana kita nambah SGD 20  untuk satu kunci sebagai deposit, tapi uang ini akan dikembalikan lagi ke kita ketika check out. Jadi tidak perlu khawatir, sewa kunci sebutuhnya aja. Kalo butuh 4 ya sewa 4, toh duitnya juga balik. Kami putuskan sewa satu karena sudah pasti kami bakal ber4 kemana-mana.

Untuk foto kamar, saya belum sempat foto karena keburu istirahat dulu sebelum moto kasurnya, kondisi kurang lebih sama kayak di web hostel.

Sekian reviewnya, smoga bermanfaat. Jangan sungkan untuk tinggalkan komentar. Terima kasih.

Tag : Traveling, Singapura

Review Buku You're The Apple Of My Eye

0 comments
Mood membaca sedang menyusut drastis,

Gambar yang ada di blog terhapus sudah, mau mbenerin rasanya no time.

Dan akhirnya saya ambil buku “You’re The Apple Of My Eye” dari rak, membacanya sedikit-sedikit dan memutuskan untuk membuat reviewnya.


Buku ini selalu menari untuk dibaca, lagi dan lagi
Judul Buku :You’re The Apple Of My Eye
Penulis : Giddens Ko
Penerbit : Penerbit Haru
Jenis : Semi-Autobiography

Saya terlebih dulu menonton filmnya, sebelum membaca bukunya. Seperti yang telah saya bahas sebelumnya disini saya menyukai film You’re The Apple Of My Eye, berharap bukunya terbit di Indonesia dan akhirnya itu terjadi. Perbedaan klasik selalu terjadi antara film dan buku, buku seringkali lebih detail dalam membahas sebuah cerita dan tentu saja kita lebih bebas menggambarkan ceritanya. Menurut saya semua memeliki keunggulan masing-masing, tergantung selera. Kita merasa buku lebih baik lebih karena apa yang kita pikirkan ketika membaca tidak sama dengan yang divisualisasikan oleh aktor dan sutradara.

Lalu bagaimana dengan buku You’re The Apple Of My Eye?


Menurut saya buku ini cukup “ringan” untuk dibaca dan membuatmu tidak bosan untuk melanjutkannya. Jika dibandingkan filmnya, buku ini juga lebih detail dalam menggambarkan kisah hidup Ko Ci Teng (Giddens Kos). Di film menceritakan tentang kehidupan Ko Ci Teng ketika SMA, tetapi di buku semuanya telah dimulai ketika ia SMP. Disini juga diceritakan orang yang disukai Ko Ci Teng sebelum Sen Cia Yi, seperti saat melihat filmnya membaca buku ini membuat kita mengingat kebodohan kita sendiri.

Buku ini penuh pesan dan cocok untuk untuk semua kalangan, dengan bahasa ringan tetapi punya pesan mendalam.

“Prolog”
Mereka duduk depan belakang,
Titik-titik biru mulai menodai bagian belakang si anak lelaki
Ketika ia menoleh, senyuman si gadis membuat si anak lelaki bermimpi selama delapan tahun

Dan terbelenggu seumur hidup
Berikut beberapa cuplikan (quote) favorit saya di buku ini:
“Setelah setengah jam, bidak caturku terus menerus diambil, sehingga pertahananku terlalu lemah untuk menyeberang ke area lawan. Ternyata begitu. Permainan catur itu seperti hubunganku dengan Sen Chia Yi. Beberapa tahun kemudian, tak peduli betapa kerasnya aku berusaha selamanya aku hanya bisa bercerita di blog.”

“Kekuatan fisik manusia sangat besar, begitu besarnya sehingga tidak akan habis digunakan untuk tindakan-tindakan bodoh di masa muda.”

“Benar. Menyukai seseorang yang tepat akan membuat kita berseri-seri. Berseri-seri hingga delapan tahun.”

“Di salah satu titik terpenting dalam hidup, aku mengerti aku dan Sen Chia Yi memiliki sifat yang bertentangan. Dari awal, aku sudah tau perbedaan ini.”

“Delapan tahun menyukai membuat kami memiliki hubungan yang dalam. Mungkin tidak sedekat pasangan, tetapi lebih dekat dari seorang teman. Itu adalah belenggu.”

“Ternyata disukai oleh dirimu membuatku sangat bahagia.”

“Ko Ci Teng, kau selalu terlalu percaya diri, selalu mengatakan kau bisa mendapatkanku dan menikahiku. Tapi ketika harus mendengarkan jawabanku, kau menjadi seorang pengecut.”

“Namun kehidupan bukan untuk seseorang saja. Rasa suka pun bukan untuk seseorang saja.”
“Meskipun cintaku dan cintanya tidak berakhir seperti yang diharapkan, tetapi semua masa-masa itu selamanya tidak tergantikan.”
Seperti dalam film, favorit saya adalah :
“Mungkin di dunia pararel yang lain, kita bisa bersama.”
Ketika menulis review ini, saya harus membuka kembali bukunya membuat perasaan campur aduk, rasanya seperti ada sebuah kelereng di kerongkongan.

Maka nikmatilah masa mudamu, jatuh cintalah dan bekali semua itu dengan pemahaman baik.

Politik Itu Bukan Sepakbola, Bung!

0 comments

Tumbuh di antara dua laki-laki penggemar Sepak Bola membuat saya sedikit memahami rasa cinta penggemar sepak bola. Mungkin tidak semaniak saya terhadap K-Drama ataupun K-Pop, bahkan bisa dibilang saya cuma "pengamat" penggemar Sepak Bola. Saya sendiri lebih kuat melek ketika melihat K-Drama dibandingkan ketika harus begadang karena pertandingan bola. Mata saya biasanya kriyep kriyep sambil terus bertanya sama si Adek, berapa skornya?. Pertanyaan itu biasanya diakhiri dengan kalimat "Ngaliho ae mbak, turu kono lho" yang artinya pergi mbak, tidur sana. Saya pun menyingkir sambil menggigit dan memeluk guling kesayangan.

Piala Dunia kali ini agak berbeda karena datangnya bersamaan dengan pilpres di Negara ini. Seorang teman mengeluh di ujung telepon, gegap gempita Piala Dunia kurang terasa. Kami berdua menyimpulkan karena stasiun TVnya yang kurang menyajikan interface dengan baik, berbeda dengan stasiun TV terdahulu, sebut saja si R yang benar-benar total ketika menyiarkan piala dunia. Total disini karena si R mengemas Piala Dunia menjadi kesatuan tidak hanya menyajikan pertandingannya saja. Segala pernak-pernik, nonton bareng, bahkan iklannya pun lebih banyak. Kalau teman-teman amati si R bahkan mengemas acara lain menjadi bagian dari piala dunia, begitulah Piala Dunia yang dulu. Kalau yang sekarang Piala Dunia diselingi dengan Debat Pilpres, bukan cuma debat antar capresnya tapi juga pendukungnya bikin pusing dan mual saja.

Sebagai orang Indonesia yang selalu bilang “untung saja” , kita wajib juga mengatakan “untung saja” masih disiarkan TV lokal coba kalau TV kabel, bisa berabe deh. Meskipun kecewa, sebagai warga Negara yang baik saya harus mengapresiasi stasiun televisi yang memberikan porsi lebih untuk pesta demokrasi kali ini, mungkin itu artinya kita lebih peduli kepada masa depan bangsa ini dibandingkan dengan Piala Dunia yang kita ikut saja tidak. 

Tentang Pilpres dan Sepak Bola

Keduanya sama-sama punya penggemar, keduanya sama-sama dibagi menjadi beberapa kubu, keduanya sama-sama ada pihak yang kalah dan yang menang. Lalu apa bedanya?

Jawabannya, ada satu hal yang berbeda dan itu mutlak adanya.

Masih ingat pemilu 2004 dan 2009? Masih ingatkah kita betapa mayoritas masyarakat kita memuja-muja sang Jendral dengan segala daya upaya? Media pun juga ikut-ikutan lebay, atau malah media yang bikin masyarakat kita lebay waktu itu, entahlah yang jelas euphoria waktu itu juga luar biasa. Lalu apa yang terjadi sekarang? Apa yang kita lakukan pada si Jendral dengan kantung matanya yang terus menghitam?

Menghujatnya. Itulah yang kita lakukan sekarang.

Tidak ada musuh dan teman yang abadi dalam politik, begitu katanya

Jujur saja saya sedih melihat kenyataan ini, bagaimanapun juga beliau adalah presiden kita. Saya mengatakan ini bukan karena saya pendukungnya. Waktu pemilu 2009, sebenarnya saya mau coblos capres yang lain tapi krn permintaan sang Ibu yang waktu itu nggondok akhirnya saya pilih si Jendral. Bagi saya waktu itu sama saja, toh si Jendral juga bakalan menang meskipun nggak saya pilih karena hasil pemilu saat itu tidak “segelap” pemilu kali ini. Coblosan saat itu murni karena ingin menyenangkan hati Ibu, maklum Ibu saya fan fanatic si Jendral mungkin kadar nge-fansnya sama kayak saya nge fans Joong Ki, hihihi. Sementara si Bapak tetap nyoblos capres lain yang sebenarnya sama kyk pilihan saya. Dan Alhamdulillah Ibu tetap setia mengagumi si Jendral di tengah hiruk pikuk hujatan masyarakat dan media saat ini.

Lalu bagaimana dengan sepak bola?

Fanatisme pecinta bola jauh berbeda dengan fanatisme politik, jika di dunia politik tidak ada musuh dan kawan yang abadi maka sepak bola sebaliknya. Penggemar bola biasanya konsisten menjadi penggemar klub tertentu. Menang atau kalah mereka tetap menjadi penggemar klub tersebut. Konsistensi ini yang membedakan antara politik dan sepak bola.

Menyambut pesta demokrasi kita kali ini (pilpres) dan piala dunia, ada satu hal lagi yang berbeda dari keduanya. Kemenangan tim favorit kita di piala dunia adalah akhir dari perjuangan karena setelah juara piala dunia tahun 2014, tugas mereka selesai sampai disana. Mereka juara, titik. Tapi kemenangan salah satu calon presiden bukanlah akhir dari segalanya, kemenangan ini justru titik awal perjalanan dan perjuangan bangsa ini. Dari titik inilah semuanya dimulai, bahkan kita punya tugas yang lebih berat dari sekedar membela mati-matian capres sebelum hari pencoblosan sampai mencoblos gambarnya di bilik suara.

Tugas yang sebenarnya baru dimulai setelah itu, siapapun yang terpilih kita punya tugas yang sama yaitu mengawasi calon terpilih nanti. Sebenarnya tugas terpenting adalah menjadi warga negara yang bukan hanya sekedar baik tapi juga kompeten, tapi saya yakin teman-teman sudah memulainya dari sekarang bukan? Dari perdebatan pilpres ini saja saya liat banyak dari masyarakat Indonesia yang punya wawasan luas.

Kadang agak terganggu dengan pertengkaran soal pilpres, tapi disisi lain saya juga senang. Kalau mengambil sisi positifnya, bukankah tanpa kita sadari pengetahuan kita bertambah seiring perhelatan pilpres ini? Banyak yang mendadak paham soal HAM, Laut China Selatan, Tank, sejarah Indonesia dan pengetahuan yang lain. Bukankah begitu :p

Yang jelas apapun pilihan kita dan siapapun presiden terpilih nanti, jangan biarkan ia berjuang sendirian.

Tag : Daily

Review Drama Korea Fashion King

4 comments
Setelah kecewa dengan beberapa drama yang saya liat akhir-akhir ini yang diakhiri dengan Lie To Me yang geje abis, akhirnya nemu satu drama yang agak nendang.


Banyak yg bilang endingnya jelek, ngga ada pesan kyk drama Korea lainnya dan alasan yang lain. Tapi saya bisa katakan, drama ini bagus! Hahhaa. Kenapa? Kenapa? Saya harus punya alasan kuat, krn mungkin yang bersebrangan dengan saya bakal lebih banyak. Yuk kita bahas satu persatu...

Tema
Kebanyakan drama korea lebih menonjolkan perseteruan dua wanita, di Fashion King mungkin ada Choi Anna dan Lee Ga Young tapi point utamanya bukan mereka berdua. Point utama di drama ini adalah ego dan harga diri dua lelaki yaitu Jung Jae Hyuk dan Kang Young Gul. Lamaa rasanya saya nggak liat drama dengan dua tokoh utama lelaki yang kuat, drama terakhir dengan dua tokoh utama lelaki yang kuat yang saya ingat adalah Memories of Bali selebihnya saya sudah lupa. Dan ternyata usut punya usut, penulisnya Fashion King sama kyk Memories of Bali. Lagi-lagi, saya tanpa sengaja jatuh cinta pada drama dengan penulis drama yang sama. Setelah Lee Kyung Hee dengan Nice Guy dan drama lain, kali ini giliran Kim Ki Hoo dengan Fashion King


Akting
Hellooo, akting? Jangan diragukan lagi kalo masalah satu ini. Yoh Ah In sudah terbukti berkali2 sebagai aktor hebat dengan akting yang dae bak. Dan disini dia bisa memerankan tokoh Kang Young Gul yang temperamental dengan baik, gaya rambutnya pun disesuaikan. Kalo Lee Jee Hoon, saya liat pertama kali dia di movie Architecture 101 dan langsung jatuh cinta. Waktu itu dia memerankan masa mudanya Uhm Tae Wong dengan baik dan terbukti pilemnya sukses di pasaran. Sementara itu disini dia berperan jadi chaebol cakep, jujur saja saya lebih suka si Jae Hyuk dari pada Youn Gul jadi yaa pasti aktinya bagus!haha. Yuri dan Shin She Kyung juga berakting cukup bagus, untuk seorang Yuri yang notabenya anggota SNSD aktingnya disini sangat baik. Drama ini tayang hampir bersamaan dengan Love Rain yang dibintangi Yoona SNSD dan banyak yang membandingkan akting keduanya dan tentu saja menurut saya Yuri lebih baik. Sementara itu bagaimana dengan Shin She Kyung? Kalo artis satu ini memang termasuk luar biasa, aktingnya yang tanpa ekspresi justru menurut saya yang menjual. Ya ya ya, untuk akting pilem ini Good lah yaa..


Alur Cerita
Drama ini bukan drama dengan alur cerita mendetail tentang masa kecil para pemerannya. Meskipun terdapat beberapa cuplikan masa kecil antara Lee Ga Young dan Kang Young Gul, tapi cerita lengkap masih samar. Jadi jangan harapkan cerita detail yang mengungkap semua sisi dalam drama ini. Karena drama ini lebih menonjolkan tentang konflik bisnis yang penuh dengan dunia hitam, banyak yang tdk suka dengan kejamnya film ini, yaa but that's the reality. Banyak yang protes kenapa ini kenapa begitu? Lalu bagaimana dengan jawaban konflik ini? Banyak yang tidak terjawab dan terlupakan. Saya bilang terlupakan karena banyak yang protes kenapa Ga Young tdk mengingat kalung ibunya sndr, yang ingat malah si Young Gul.  Tapi bukankah dalam hidup banyak hal yang juga tidak terjawab dan terlupakan. Dalam satu kejadian yang terjadi pada dua orang, bisa jadi yang mengingat hanya satu sisi, sementara yang lain melupakannya. Bukankah ini sangat realistis, kecuali kalau kita mengharapkan drama fairy tale yang cengeng dan bikin termehek-mehek macam I Miss You.


Saya termasuk pendukung pasangan Ga Young dan Jang Hyuk, kenapa kenapa? Ya karena mereka berdua cocok dan menurut saya lebih berpotensi untuk bahagia. Ga Young itu suka Young Gul dari awal, tapi temperamen Young Gul dan cara dia memperlakukan Ga Young saya tidak suka. Dia tidak bisa menunjukkan dengan jelas bahwa dia menyukai Ga Young, bahkan sampai akhir dia selalu menyakiti Ga Young dengan selalu bersama Choi Anna. Memang sih dia baik, tapi tidak pernah ditunjukkan ke Ga Young, yang ada malah marah-marah mulu dan sampai episode 15 saya masih melihat Young Gul yang menegaskan kepada Ga Young bahwa mereka adalah bos dan karyawan. Oke saya tau, cinta tidak harus dikatakan lewat kata-kata, tapi paling tidak tunjukkan lewat sikap. Kalo ini Kang Maru jagonya *tuh kan Nice Guy lagi. Episode 16 ada adegan romantis antara mereka berdua, tapi tetap saja ujung-ujungnya berakhir dengan pertengkaran yang menyesakkan. Sebenarnya saya juga nyesek melihat mereka berdua, ada keinginan kesalahpahaman dari mereka berakhir. Tapi mau bagaimana lagi untuk apa saling menyukai tapi malah menyakiti satu sama lain.

Sementara Jae Hyuk, meskipun dia agak labil dan terkesan hanya Chae Bol kaya dia bisa memperlakukan Ga Young dengan baik. Dari awal caranya memperlakukan Ga Young lebih gentle dan jujur. Saya suka beberapa adegan mereka dan tingkah si Jae Hyuk kalo sm Ga Young. Karena pada dasarnya Jae Hyuk dan Young Gul itu "tokoh jahat" jadi ya yang paling penting adalah siapa yang bisa memperlakukan Ga Young dengan baik. Jae Hyuk selalu menunjukkan sikap "aku membutuhkanmu" pada Lee Ga Young, dan yang jelas ia tidak pernah mengusir Ga Young pergi sebagaimana yang sering dilakukan Young Gul. Yang menarik ada percakapan antara Anna sm Young Gul di mobil, disitu Anna bilang "Meskipun begitu, apapun yang dikatakan Jae Hyuk menunjukkan ketulusan. Ketika iya meminta maaf, maka ia benar-benar minta maaf. Ketika mengatakan cinta, maka dia memang benar-benar cinta". Dan kalau ga salah di episode 18, si Jae Hyuk datang ke pesta pembukaan kantornya Young Gul dan Anna sambil mabuk, di depan banyak orang dia bilang dia mencintai Lee Ga Young. Itu adalah hal yang sangat memalukan untuk ukuran Chae Bol macam Jae Hyuk, but he did it. That's my Jae Hyuk oppa after all. Hii :D


Jadi ingat Memories of Bali, banyak fans drama tersebut yang terpecah karena memilih dua tokoh yang berbeda antara Kang In Wook dan Jung Jae Min, dan saya milih Jung Jae Min yang notabenya lebih sadis. Kedua drama ini juga berending kontroversial dan sama-sama meninggalkan banyak protes.

Ending
Sebenarnya drama ini sudah punya banyak pesan kok. Penulis skenario, Kim Ki Hoo sebenarnya hampir sama kyk Lee Kyung Hee. Ya intinya jangan terlalu ambisius dan balas dendam. Kalo Nice Guy saya memang berharap Happy Ending karena Ma Ru dan Eun Gi sudah terlalu menderita di hampir semua episode. Lagipula mereka berdua sama-sama tidak serakah dan cuma ingin kebahagiaan yang sederhana. Mereka tau diri untuk tidak memiliki semuanya. Dan kebahagian sederhana yang mereka harapkan terkabul. Ma Ru itu pinternya minta ampun, dia bisa jadi apapun termasuk pengusaha sukses, tapi dia memilih jadi dokter untuk hidup bersama Eun Gi dan mencintainya seperti orang pada umumnya.
Sementara itu di Fashion King, sampai akhirpun Young Gul tetap serakah. Padahal sebenarnya yang diinginkan Ga Young kebahagiaan yang sederhana, tp Young Gul tetap berambisi besar termasuk menghancurkan dan mengambil alih YGM dan menghancurkan Jae Hyuk. Tanpa sadar dia melawan kekuatan yang sangat kuat, sampai akhirnya dia .... (Isi sndiri ya, takut spoiler). Well, itu pendapat saya. Cuma pendapat yaa, mungkin bakal banyak yang melawannya. See you next...

Tag : Korean Drama