Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Tempat Gaul Bukan Mall di Jakarta? Ya Pasar Santa!

0 comments
Siang itu saya siap-siap berangkat janjian sama teman untuk nongkrong bareng, kali ini tempat tujuan kami adalah Pasar Santa. Pasar Santa terletak di Jalan Cipaku Kebayoran Baru Jakarta Selatan, lumayan jauh dari domisili saya tapi karena katanya tempatnya asyik dan patut dicoba saya memutuskan  berangkat. Dari Kelapa Gading saya naik angkot ke terminal Pulo Gadung, seperti biasa saya mengambil busway tujuan Dukuh Atas dan melanjutkan perjalanan dengan naik busway koridor 1 arah blok M. Kami berempat janjian ketemu di blok M dan naik taksi ke Pasar Santa (eaaa ujung-ujungnya naik taksi juga). Kurang dari 15 menit kami sudah sampai tujuan.

Suasana Pasar Santa
Kesan pertama yang saya rasakan ketika sampai adalah “Pasar Biasa”, iya pasar biasa. Bagaimana tidak, Pasar Santa sebenarnya adalah pasar tradisional yang disulap menjadi berbeda. Bangunan bawah tidak ada bedanya dari pasar pada umumnya, namun ketika kita sampai di lantai atas, barulah kelihatan sisi unik dari Pasar Santa. Pasar Santa adalah pasar tradisional yang disulap menjadi tempat nongkrong layaknya kafe-kafe dan tempat makan. Tanpa menghilangkan kesan “pasar” yang panas dan tanpa AC, para penjual kreatif ini menjadikan Pasar Santa menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi dengan desain kafe dan warung yang menarik pantas saja pengunjung rata-rata adalah muda-mudi.



Kami mencoba beberapa makanan, meskipun tidak semuanya. Ternyata selain desainnya unik, rasanya juga lumayan. Beberapa stand makanan malah harus mengantri sangat panjang, teman saya yang ngidam pisang coklat harus menelan ludah karena nggak tahan antrian. Selain makanan juga ada live musik disini.

Sandwcihes and Burgers
Menu




Ketan Pasar


Batagor
Batagor

Keterangan :
Harga yang berlaku adalah harga pada tanggal 28 Februari 2015

Bagi kalian yang pengen gaul dan ibadahnya seimbang juga ngga usah khawatir tempat solat, karena dilantai atas ada musholla.
Jadi untuk kamu yang bosan jalan di mall, ada baiknya mencoba Pasar Santa untuk agenda selanjutnya. Karena ngga ada AC, jangan mengeluh karena kepasanan ya! 

Tempat Makan Dengan Tema Penjara, Bong Kopitown Kelapa Gading

0 comments

Akhir tahun baru kemarin lebih banyak diisi dengan makan-makan, kali ini kami mencoba di kedai kopi di Kelapa Gading. Kata seorang teman, Bong Kopitown Kelapa Gading memiliki tema yang unik karena tempat makan dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai penjara.


Ketika sampai di dalam, terlihat beberapa ruang yang dibatasi jeruji besi penjara lengkap dengan pramusaji yang memakai seragam ala napi. Menu yang disediakan cukup beragam dengan harga yang cukup terjangkau.


Jika punya waktu luang  dan ingin menikmati kuliner di Kelapa Gading ada baiknya mampir kesini untuk sekedar mencoba nuansa penjara. Selamat menikmati.


Note : Harga berlaku pada tanggal 31 Desember 2014

Maps :

Kuliner Cranky Crab Kelapa Gading

0 comments
31 Desember 2014

Akhir tahun kemarin, saya dan teman-teman memutuskan menghabiskan malam tahun baru di kasur masing-masing tapi sebelum itu terjadi kami berencana melaksanakan beberapa agenda 2014 yang belum kami laksanakan. Salah satu agenda itu adalah makan kepiting raksasa di daerah Kelapa Gading dan akhirnya kami memutuskan Cranky Crab sebagai tempat makan kami. Cranky Crab terletak di Jalan Boulevard Raya QF 1 No 1 Kelapa Gading (dari arah Mall Of Indonesia, bunderan belok kiri dan terus lurus ke depan). Sekitar 500m/1km baru kami temukan Cranky Crab, papan namanya tidak terlalu mencolok justru Happy Puppy lebih terlihat daripada Cranky Crab.

Sekitar pukul setengah 6 kami sampai disana, ruangan terlihat sepi pengunjung mungkin masih sore dan orang-orang masih dalam perjalanan pulang bekerja atau mungkin masih bekerja. Tata ruangannya cukup unik, sekilas tampak seperti di luar negeri. Belakangan ini di Indonesia terutama yang saya tau di Jakarta tempat makan tidak hanya mengandalkan rasa masakannya saja tapi juga tata ruang dan penyajiannya. Kami memilih di smoking area bukan karena kami akan merokok, tapi pemandangan dari arah ini memang benar-benar bagus, lagipula belum ada orang disana jadi kami tidak akan terganggu dengan asap rokok.

Pramusaji datang dan mulai memberikan menu kepada kami, dan seperti biasa saya jadi potograper amatir dadakan karena sangat ingin mengabadikan moment ini ke dalam blog. Teman saya sampai protes dan menyuruh saya duduk terlebih dahulu dan memilih menu. Tapi saya menolaknya karena merasa momen ini harus diabadikan karena ini adalah salah satu resolusi 2014 yang terwujud,hahaha. Entah apa yang dipikirkan pramusasi terhadap saya yang memalukan ini...




Kami bertanya kepada pramusaji ukuran kepiting yang tepat untuk bertiga dan kami disarankan untuk memilih yang Large, untuk saus kami juga bertanya saus apa yang populer disana dan mereka menawarkan saus asia untuk kepiting yang kami pesan. Selain kepiting kami memesan menu Mix Bag satu, yaitu campuran berbagai macam menu seafood yang terdiri dari udang, kerang dan lainnya. Sebagai pengganti nasi kami memesan mantau, saya sendiri belum pernah memakan mantau sementara teman yang lain sudah. Berikut daftar menu dan harga yang kami pesan. 


*Catatan : harga yang berlaku adalah harga pada tanggal 31 Desember 2014



Memasuki waktu sholat magrib kami solat terlebih dahulu jadi teman-teman tidak perlu khawatir karena disini juga ada tempat sholat yang letaknya di baseman. Tempat ini semakin ramai menjelang malam, beberapa keluarga mulai berdatangan meskipun mereka kebanyakan memilih no smoking area karena tempatnya yang lebih luas dan cocok untuk keluarga (mohon maaf tidak sempat memoto area ini). Kami cukup puas dan merasa sangat kenyang dengan menu ini belum lagi kepuasan saat memukul kepiting dengan palu besi yang besar. Saya sarankan untuk anda yang sedang ingin marah dan mencari pelampiasan agar makan disini dan anda dapat memukul kepiting sepuasnya. 
Selamat menikmati....


Tag : Culinary Jakarta

Pasar Barang Bekas Pasar Senen

0 comments
Weekend...  

Setiap weekend, saya dan teman sekantor punya kegiatan rutin pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan selama weekend. Tapi kali ini kami mencoret kegiatan tersebut dan menggantinya dengan pergi ke Pasar Senen dan Tanah Abang. Untuk Tanah Abang, saya sudah sangat-sangat sering kesana jadi kali ini saya akan fokuskan untuk Pasar Senen. 

Pasar senen terletak di tengah-tengah kota Jakarta dan menjadikannya salah satu pusat perbelanjaan dan transportasi, disini mall, pasar, stasiun, terminal dan halte busway ada. Meskipun demikian, kesan seram dari daerah ini melekat begitu erat, saya sendiri memiliki pengalaman pribadi tentang cerita seram itu. Waktu itu saya kehilangan dompet yang untungnya hanya berisi uang senilai kurang lebih Rp 30rb sementara kartu-kartu sudah saya blokir begitu tau si dompet raib entah kemana.

Kembali ke acara weekend...

Kami berangkat dari terminal Pulo Gadung menuju Pasar Senen dengan bus mayasari bakti 507 tujuan Tanah Abang dan berhenti di Pasar Senen. Ada yang menarik selama perjalanan di bus, awalnya kami mendengarkan musik dangdut yang dibawakan oleh seorang pria lengkap dengan sound sysytem dan micnya, selanjutnya ibu-ibu paruh baya yang ada di sampingnya melanjutkam pertunjukkan dengan menyanyikan lagu Ayu Ting-Ting, saya terkagum-kagun dibuatnya bagaimana mungkin ibu ini punya suara yang begitu “imyut”. Di usianya, sudah waktunya ia menikmati hari-hari bahagia bersama cucu, tapi dia memilih bernyanyi di bus ini bukan mengemis atau lainnya. Dalam hati saya salut dengan beliau.  

Selanjutnya setelah konser dangdut mini selesai, ada seorang pemuda yang naik di bus, ia berbicara dan berceramah,  kali ini tentang definisi sabar yang ujung-ujungnya meminta sumbangan. Ia mengaku sebagai seorang mahasiswa IKJ yang sedang butuh bantuan dana untuk kuliah. Saya hanya memandang wajah teman saya, sepertinya wajah kami menanyakan hal yang sama. 

Selama perjalanan saya terus berdiri hingga turun di Pasar Senen,  selama itu saya mengamati penumpang yang ada di bus. Ibu-ibu ini penampilannya begitu sederhana dan selalu menyisihkan uangnya untuk para pengamen dan semacamnya. Mereka tidak banyak berfikir seperti saya, yang mereka tau hanya ingin berbagi. Pemikiran mereka begitu sederhana tentang definisi memberi, beda dengan saya yang selalu berfikir tentang benar atau salah dan layak atau tidak ketika ingin memberi sesuatu saat ada di bus.  Di Jakarta yang katanya lebih kejam dari Ibu tiri ini, masih banyak orang baik. Kejam atau tidaknya sebuah kota ataupun keadaan tergantung dari persepsi dan sikap kita. Dan bagi saya, ibu-ibu ini adalah contohnya.
Kami pun turun Pasar Senen, dan masuk ke dalam Mall Atrium yang memiliki jembatan penyebrangan yang terhubung dengan Pasar. Akhirnya kami sampai di Pasar barang-barang bekas dan mulai berburu. Disini harga barang-barang berkisar antara 5rb-150rb dan jangan lupa untuk menawar, karena itu wajib! Saya sempet bengong karena ketika tanya harga tas bekas Rp 150rb, kondisinya tidak cukup bagus dan saya pikir itu terlalu mahal. Kemudian ibu-ibu disamping saya mengatakan “Tawar terus mbak, jangan ditelan mentah-mentah. Paling tidak separo harga”. Kami mengangguk dan kemudian pergi untuk hunting barang lain. Disini dijual bermacam-macam pakaian dan tas bekas mulai dari jaket, kaos, baju anak-anak sampai pakaian dalam.
Tujuan awal kami datang kesini adalah membeli jaket bekas layak pakai, tapi apa daya tak ada yng sesuai di hati. Akhirnya masing-masing membeli satu baju seharga 30rb dengan penawaran awal 40rb. Jangan tanya bajunya yang mana ya, karena saya akan tutup mulut! Hahaa.. Ya setidaknya kami membawa hasil ketika kesana. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke Tanah Abang dengan kembali menaiki Bus Mayasari Bakti 507. Kali ini tak ada penyanyi lagi, saya asyik bernyanyi sambil berdiri karena waktu itu Always My Baby-nya David Cook lagi muter di bis. Teman saya hanya mendesis “Haduh, jangan malu2in”

Kemudian saya tertawa...

Mengutip quote dari mbak kos saya jaman kuliah “karena hidup adalah memaknai”

Jakarta 07 Maret 2014

Pulau Harapan Part II (Kepulauan Seribu)

0 comments
Pulau Bira, Pulau Kelapa Dua


 Setengah hari lagi waktu liburan kami habis, akhirnya kami putuskan ikut tour keliling pulau dengan menambah ongkos sebesar 30 rb. Tujuan pertama adalah pulau bira besar, airnya sangat bening, rasanya pengen nyemplung lagi. Tapi sayang di kapal ngga ada peralatan snorkling dan di dasar lautnya banyak bulu babi. Kami pun keliling pantai sambil foto-foto. di Pulau ini cukup luas dengan beberapa penginapan dari kayu, semacam resort gtu. Tapi karena tidak perpenghuni jadi kesannya tidak terawat, padahal benar-benar bagus lhoo.. Seperti pulau tempat peristirahatan.


Bener-bener pgn njebur lagi, tp mengingat ombak pasang dan kami yang akan pulang jam 11 nanti niat njebur saya urungkan. Waktu berlalu, guide lokal mulai ngingetin kami lagi untuk kembali ke Perahu untuk menuju tujuan selanjutnya yaitu penangkaran Penyu yang terletak di Pulau Kelapa Dua.


Sesampainya di pulau Kelapa Dua, terik matahari menyambut kami. Tidak seperti bayangan saya tentang penangkaran penyu, di pulau ini saya hanya melihat deretan kelapa dan pulau penduduk. Penangkaran penyu yang sudah saya kunjungi sebelumnya ada di pulau Bali, disana pengangkaran penyu memiliki satu pulau khusus untuk penangkaran penyu dan hewan lain. Sementara itu di pulau ini, didominasi oleh rumah penduduk. Eits,, tapi tunggu dulu, rumah penduduk disini beda lhoo.. Ini desa yang dikelilingi pantai, tapi rumah penduduk di pulau kelapa dua berbentuk rumah panggung. Berdasarkan informasi orang-orang, disini tinggal suku bugis, makanya rumahnya pake rumah panggung.

Setelah  berjalan beberapa saat akhirnya ditemukan tempat penangkaran penyu. Dengan tiket seharga 3000 rupiah, kami masuk ke dalam dan pegang-pegang penyu sepuasnya,.. hihihi
Di sebelah penangkaran penyu, ada budidaya manggrove. Saya membayangkan, kalau budidaya ini berhasil tempat yang gersang dan panas ini pasti akan lebih baik karena banyak pohon. Smoga pohon-pohon Manggrovenya cepet tumbuh...

Akhirnya kami pulang menuju penginapan, setelah beres-beres barang, akhirnya kami menuju kapal menuju Muara Angke yang sudah bersandar di dermaga. It's hard to say goodbye to this vacation..


And I believe, a thousand miles always begins with a single step.


Pulau Harapan Part I (Kepulauan Seribu)

0 comments

Muara Angke, Pulau Harapan, Pulau Matahari, Pulau Gosong, Pulau Bulat

Setelah ditunda selama 2 minggu akhirnya kami berngkat untuk ikut tour ke pulau harapan. Kali ini kami tidak backpacker tapi menggunakan jasa travel dengan biaya 280rb include penginapan, jelajah pulau, snorkling dan kamera underwater, makan 3x, exclude kapal PP. Penundaan dilakukan karena cuaca buruk, dan alhamdulillah kami berangkat pada tanggal 30 November 2013 ketika cuaca sangat cerah.

Saya menginap di kosan teman, di daerah kota tua. Paginya kami bertiga naik taxi menuju Muara Angke. Kali ini supir taxinya agak cerewet, mungkin karena nggak mau becek dan macet kami diturunkan di jembatan menuju muara angke dengan alasan macet. Karena lokasi pelabuhan cukup jauh dari jembatan, kami melanjutkan dengan naik odong-odong, cukup asyik karena kalau kami tetap naik taxi kami pasti tidak bisa merasakan bau khas muara angke yang benar-benar "mempesona". Sesampainya di Pelabuhan, kami membeli tiket seharaga Rp 40rb untuk masing-masing penumpang dengan tujuan terakhir pulau harapan.

Pulau harapan terletak dibagian paling ujung kepulauan seribu, dibanding pulau bidadari atau pramuka. Dengan perjalanan 3 jam cukup untuk membuat kami tidur dan terlelap di kapal. Sudah terlihat seperti imigran gelap yang mau di ekspor loh!
Sesampainya di Pulau Harapan kami disuguhi pemandangan yang indah, lautnya bersih, buat saya yang belum pernah ke kepulauan seribu ya ngiler2 gtu. Dan makin ngiler ketika disambut telur gulung ala kepulauan seribu, hmmm enaak!!!

Pulau harapan tidak memiliki pantai berpasir di ujungnya, karena seluruh pulau dikelilingi oleh pantai yang sudah di cor dengan beton. Tujuan wisata kami memang bukan pulau harapan meskipun judul tournya pulau harapan, karena objek wisata yang sebenarnya adalah pulau di sekeliling pulau harapan. Karena pulau harapan berpenghuni, pulau ini dijadikan tempat singgah bagi para wisatawan yang ingin mengunjungi pulau-pulau disekitarnya.

Setelah beristirahat sejenak dan solat dhuhur kami langsung naik kapal lagi, jadwal kali ini adalah snorkling dan keliling pulau. Untuk spot pertama kami melakukan snorkling di area pulau matahari. Untuk saya yang ngga pernah snorkling cukup terwonder-wonder dengan keindahan taman bawah laut ciptaan Allah. Subhannallah, luar biasa indahnya.... Sayangnya kamera si Bapak ngga begitu bagus pas moto kita dan karangnya. Kameranya berembun, hiks hiks. Spot snorkling yang kedua entah ada dimana, yang jelas di tengah-tengah laut. Meskipun badan udah capek dan baju udah mulai kering kena angin laut, saya memutuskan njebur lagi.

Setelah snorklingnya puas dan badan terasa mulai benar-benar capek akhirnya kami jelajah pulau. Tidak sesuai jadwal yang ada di itenary, kami seharusnya ke pulau bira, pulau kelapa dan lainnya. Tp Pak guidenya ngajak kita ke pulau gosong. Saya suka pulau ini, sebuah pulau yang tidak berpenghuni dan bahkan tidak ada pohon sm sekali. Hanya sebuah gundukan pasir putih bersih. Tidak menyangka kalau di Jakarta ada tempat seindah ini. Dan saya mulai menceburkan diri ke laut lagi,rasanya kayak anak kecil yang girang ketemu air. hihihihi...

Ke pantai kurang lengkap tanpa melihat sunset, kapal kami selanjutnya berlabuh di pulau bulat... Disambut gapura berbentuk gading gajah, kami pun berkeliling pulau. Pulau ini pas untuk melihat sunset, karena matahari tepat ada di depan.

Luas pulau yang tdk terllau besar memudahkan guide menemukan kami ketika kami jalan-jalan. Setelah puas menikmati sunset, kami melanjutkan perjalanan untuk pulang ke Pulau Harapan.

Setelah puas makan di tempat menginap, kami putuskan tidur, karena di sekeliling pulau tak ada pantai berpasir.

Street Food Festival La Piazza Kelapa Gading

0 comments
Setelah membatalkan acara nonton ke Grand Indonesia karena bangun kesiangan. Saya dapat inpo dari teman se Batch jaman pelatihan kalo ada Street Food Festival di La Piazza Kelapa Gading, wah deket banget sama kos, batin saya dalam hati. dilihat dari judul acaranya, bisa dibayangkan bakal ada makanan dimana-mana. La Piazza sudah menjadi gudang makanan sehari-hari, ditambah festival ini pasti lebih ramai lagi, dan akhirnya saya putuskan menengok kesana, kebetulan ada teman yang menginap dikos, jadi ada teman untuk sekedar incip-incip makanan.


Dari kos yang beralamat di Perumahan Walikota Kelapa Gading, Jakarta Utara, kami naik angkot 37 langsung turun tepat di depan pintu masuk La Piazza. Sesampainya disana hujan gerimis tetapi suasana cukup ramai, karena bertepatan dengan jam makan siang. Kami berputar-putar untuk mencari makanan yang bisa mengisi perut yang kebetulan sedang kosong. Halaman La Piazza disulap menjadi festival makanan, semua ada disini, mulai dari Baso Sapi sampai makanan mall ala Sushi Tei.




Pada awalnya kami tergoda untuk mencicipi sate madura, tapi eits tunggu dulu. Bukannya kami udah sering makan sate madura ya? Kyknya kudu coba yang lain deh, yang memang belum pernah kami coba. Datang ke food festival seharusnya memang nyoba sesuatu yang beda. Kalau ada festival gini, masalahnya bukan lidah lagi tapi sudah atau belum pernah mencoba bukan?Dan akhirnya kami memilih masakan Thailand meskipun yang dipilihpun ujung-ujungnya nasi goreng!


Kami memesan satu kotak nasi goreng seharga 25rb, isinya lumayan banyak, cukup untuk 2 orang dan uniknya kami bisa mencampur 2 jenis nasi goreng dalam satu pesanan seharga 25rb. Waktu itu kami memilih Salty Fish dan Tom Yam Fried Rice. Untuk rasa? mmm saya pikir saya bukan Pak Bondan yang bisa netral menilai makanan, meskipun akhirnya tidak habis tapi rasanya tidak buruk kok. Maklum lidah saya ini benar-benar lidah Jawa, bukan cuma medoknya saja ternyata. Oh ya betewe eniwei yang paling penting adalah ketika membayar ternyata ngga bisa pake uang cash sodara-sodara!!! Acaranya ini disponsori oleh salah satu Bank yang dari tadi saya liat logo-nya, cm ngga nyadar aja kalo harus pake kartu debet atau kartu pra bayarnya. Kebetulan Banknya ini saingan berat tempat saya bekerja sekarang, jadi ya rada ga ikhlas pas harus beli voucernya seharga 100rb :'(. Tapi ya gmn lagi, nasi udah terlanjur dipesan,wkwkwkwk. Emang mau balik ke kos lagi kalo tau? ngga mgkn juga kan :D


Selain nasi goreng, kami juga mencicipi Thai Creep Sheet, saya suka karena manis, isinya telor campur kelapa, bisa bayangin ngga rasanya?hahaha. Kami juga sempat mencoba bakso, dan minumannya tetap teh botoh sosro. Baru kali ini juga beli teh botol pake kartu Pra Bayar. Teman saya berkali-kali bilang, La Piazza memang selalu menarik, dan saya mengamini kata-katanya. Di penat dan riuhnya Jakarta, daerah Kelapa Gading memang selalu menyejukkan (cie mentang-mentang tinggal disono), ada-ada saja acara yang dibuat, mulai dari rumah hantu sampai festival makanan, Indonesian Idol juga ada lho!


Hayooo buat anda yang suka Kuliner wajib dtg yaa, acaranya 21 November - 01 Desember 2013, masih ada waktu 1 minggu lagi!

Dan kartu Pra Bayar itu sisanya saya belikan jajan di Indomaret, untung ngga hangus :P