Showing posts with label Book. Show all posts
Showing posts with label Book. Show all posts

Buku The Psychology of Money karya Morgan Housel

0 comments

Buku ini adalah salah satu buku yang banyak dibaca oleh Financial Advisor atau Financial Planner, atau siapa saja yang sedang mempelajari tentang Finplan. Meurut saya buku ini adalah buku yang ringan tapi sangat berisi. Di buku ini kita diberitahu bahwa mengelola uang dengan baik tidak ada hubungannya dengan kecerdasan dan lebih banyak berhubungan dengan perilaku. 


 

Banyak contoh cerita di buku ini, diantaranya Ronald Read seorang petugas kebersihan yang pada akhir hidupnya menyumbangkan 6 juta dollar untuk rumah sakit dan perpustakaan setempat. Apa yang membuat Read bisa melakukan itu? Read menabung berapapun yang bisa ia tabung dan menginvestasikannya. Berkebalikan dengan kisah  Richard Fuscone seorang eksekutif Merril Lynch yang merupakan lulusan Harvard bergelar MBA yang memiliki karir sukses di bidang keuangan. Pada tahun 2000-an, Fuscone meminjam banyak uang untuk memperluas rumahnya, sampai pada tahun 2008 krisis melanda yang membuatnya bankrut akibat utang besar dan aset yang tidak likuid.

Beberapa quote yang cukup bagus dikutip di buku ini

“Keberhasilan adalah guru yang payah membuat orang pandai berpikir dia tak bisa kalah” Bill Gates

“Ya, tapi saya punya sesuatu yang dia tak akan punya --- Rasa Cukup” Joseph Heller

“Untuk mendapatkan uang diperlukan pengambilan risiko, sikap optimis dan tampil di luar. Namun menyimpan uang diputuhkan kebalikan dari pengambilan risiko. Diperlukan kerendahan hati, dan rasa takut kehilangan apa yang didapat dengan cepat.” The Psychology of Money

“Charlie dan saya selalu tahu bahwa kami bakal jadi luar biasa kaya. Kami tak buru-buru ingin kaya, kami tahu itu akan terjadi. Rick sama pintar dengan kami, tapi dia buru-buru.” Warren Buffett

“Nilai intrinsik terbesar uang—dan ini sangat jelas—adalah kemampuannya memberi Anda kendali atas waktu Anda” The Psychology of Money

“Jangan menjadi rasional tanpa perasaan ketika membuat keputusan keuangan” The Psychology of Money

Sekian ulasan singkat untuk buku The Psychology of Money, untuk yang punya kemampuan Bahasa Inggris cukup baik saya sarankan tetap membeli versi aslinya, tentunya agak sedikit menguras kantong tapi worth it.

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

0 comments
Beberapa hari join fanpagenya Tere Liye di facebook,saya mulai tersihir dengan penggalan-penggalan percakapan di bukunya. Sampai pada akhirnya saya mulai benar2 tertarik dengan sepotong judul.
                                          "Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin"


Tidak seperti yang saya dan orang lain duga,Tere Liye adalah seorang laki-laki. Dan semakin tertarik dengan karyanya, setelah melihat sosok wanita yang dipajang di foto facebooknya, awalnya saya kira dia lah Tere Liye,but well ternyata itu adalah istrinya.

Mungkin karena dulu saya punya cerpen favorit dengan judul yang kurang lebih sama, berharap novel ini juga menyajikan isi yang tidak jauh berbeda. Setelah tanya-tanya ke mbah google, akhirnya nemu beberapa sinopsis hasil karya para blogger penggemar buku ini. Meskipun ternyata berbeda dengan versi cerpen favorit saya, akhirnya saya putuskan beli dengan beberapa alasan : pertama karena sampulnya bagus dan menarik,kedua karena cuplikan-cuplikan itu menggugah hati saya, dan yang terakhir dan paling penting adalah karena isinya tentang daun.. Hahahhaa..

Ini adalah buku Tere Liye pertama yang saya baca (Udah siap-siap ke gramed MOI waktu makan siang nanti untuk hunting bukunya yang lain). Bahasa yang digunakan sederhana,penuh nasihat dan petuah hidup yang indah dan tidak menghakimi. Buku Tere Liye benar-benar di luar dugaan saya yang awalnya menduga bahwa Tere Liye adalah pengarang Teenlit cengeng dan semacamnya.

Dan mari kita bahas buku hijau nan cantik ini...

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan,saran terbaik adalah baca buku ini dan resapi. Karena setiap pembaca punya interpretasi yang berbeda-beda terhadap buku yang di baca.

Tokoh sentral dari buku ini adalah Tania, Dede, Ibu, Kak Ratna, dan Mas Danar (jika Dede memanggilnya om Danar,dan Tania ingin memanggilnya Kak danar, maka saya lebih suka memanggilnya mas Danar :D)

Pernahkah anda jatuh cinta pada malaikat penolong anda? itulah yang dirasakan Tania pada Mas Danar. Kekuatan cinta yang begitu kuat, seringkali menjadi cambuk yang hebat untuk menjadi lebih baik atau sebaliknya.


Dan karena aku sudah berikrar akan selalu menuruti kata-kata dia, maka saat dia mengusap rambutku malam itu sebelum pulang dari toko buku, dan berkata pelan: “Belajarlah yang rajin, Tania!”, aku bersumpah untuk melakukannya.
Sumpah yang akan membuat seluruh catatan pendidikanku kelak terlihat bercahaya. Sempurna! -Tania-


Meskipun tidak happy ending,tapi pesan dalam novel ini tersampaikan dengan baik

Bahwa hidup harus menerima… penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti… pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami… pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. -Dede-

Untuk para pemuda dan pemudi yang sedang jatuh cinta,ini adalah novel yang recoomended untuk dibaca. Dari saya pribadi,sangat setuju dengan kata-kata Tania di ujung buku berikut

Cinta tak harus memiliki. Tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Dia memang sangat sempurna. Tabiatnya, kebaikannya, semuanya. Tetapi dia tidak sempurna. Hanya cinta yang sempurna. -Tania-


Ya intinya,tidak ada lelaki yang sempurna di dunia ini, bahkan mas Danar yang almost perfect memiliki celah yang besar dalam hidupnya. Dia tidak bisa memiliki orang yang ia cintai, jangankan memiliki mengatakannya saja dia tidak.

Yang jelas dari setiap karyanya,Tere Liye selalu mengajarkan keikhlasan dalam hidup,sebuah perasaan yang indah jika kita bisa memilikinya.... Berikut kalimat-kalimat indah yang bisa kita temukan di buku ini :

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya. -Danar-

Prinsip hidup itu teramat lentur. Prinsip itu akan selalu berubah berdasarkan situasi yang ada di depan kita, disadari atau tidak. -Anne-


Orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian disekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.-Anne-


Saya sangat suka setiap detail yang ada pada buku ini, tapi saya merasa seorang sahabat yang sangat saya sayangi harus membacanya. Maka saya putuskan untuk menerbangkan buku indah ini ke sebuah pulau yang paling indah di negara ini,dia adalah "Tania" yang nyata. "Tania" yang mungkin saat ini sedang mengalami paradoks dalam hidupnya...

                                      "The Falling Leaf Doesn't Hate The Wind"

Jakarta,5 Februari 2013

Sumber inspirasi tulisan ini :
Novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
                                                                                 

Review Buku You're The Apple Of My Eye

0 comments
Mood membaca sedang menyusut drastis,

Gambar yang ada di blog terhapus sudah, mau mbenerin rasanya no time.

Dan akhirnya saya ambil buku “You’re The Apple Of My Eye” dari rak, membacanya sedikit-sedikit dan memutuskan untuk membuat reviewnya.


Buku ini selalu menari untuk dibaca, lagi dan lagi
Judul Buku :You’re The Apple Of My Eye
Penulis : Giddens Ko
Penerbit : Penerbit Haru
Jenis : Semi-Autobiography

Saya terlebih dulu menonton filmnya, sebelum membaca bukunya. Seperti yang telah saya bahas sebelumnya disini saya menyukai film You’re The Apple Of My Eye, berharap bukunya terbit di Indonesia dan akhirnya itu terjadi. Perbedaan klasik selalu terjadi antara film dan buku, buku seringkali lebih detail dalam membahas sebuah cerita dan tentu saja kita lebih bebas menggambarkan ceritanya. Menurut saya semua memeliki keunggulan masing-masing, tergantung selera. Kita merasa buku lebih baik lebih karena apa yang kita pikirkan ketika membaca tidak sama dengan yang divisualisasikan oleh aktor dan sutradara.

Lalu bagaimana dengan buku You’re The Apple Of My Eye?


Menurut saya buku ini cukup “ringan” untuk dibaca dan membuatmu tidak bosan untuk melanjutkannya. Jika dibandingkan filmnya, buku ini juga lebih detail dalam menggambarkan kisah hidup Ko Ci Teng (Giddens Kos). Di film menceritakan tentang kehidupan Ko Ci Teng ketika SMA, tetapi di buku semuanya telah dimulai ketika ia SMP. Disini juga diceritakan orang yang disukai Ko Ci Teng sebelum Sen Cia Yi, seperti saat melihat filmnya membaca buku ini membuat kita mengingat kebodohan kita sendiri.

Buku ini penuh pesan dan cocok untuk untuk semua kalangan, dengan bahasa ringan tetapi punya pesan mendalam.

“Prolog”
Mereka duduk depan belakang,
Titik-titik biru mulai menodai bagian belakang si anak lelaki
Ketika ia menoleh, senyuman si gadis membuat si anak lelaki bermimpi selama delapan tahun

Dan terbelenggu seumur hidup
Berikut beberapa cuplikan (quote) favorit saya di buku ini:
“Setelah setengah jam, bidak caturku terus menerus diambil, sehingga pertahananku terlalu lemah untuk menyeberang ke area lawan. Ternyata begitu. Permainan catur itu seperti hubunganku dengan Sen Chia Yi. Beberapa tahun kemudian, tak peduli betapa kerasnya aku berusaha selamanya aku hanya bisa bercerita di blog.”

“Kekuatan fisik manusia sangat besar, begitu besarnya sehingga tidak akan habis digunakan untuk tindakan-tindakan bodoh di masa muda.”

“Benar. Menyukai seseorang yang tepat akan membuat kita berseri-seri. Berseri-seri hingga delapan tahun.”

“Di salah satu titik terpenting dalam hidup, aku mengerti aku dan Sen Chia Yi memiliki sifat yang bertentangan. Dari awal, aku sudah tau perbedaan ini.”

“Delapan tahun menyukai membuat kami memiliki hubungan yang dalam. Mungkin tidak sedekat pasangan, tetapi lebih dekat dari seorang teman. Itu adalah belenggu.”

“Ternyata disukai oleh dirimu membuatku sangat bahagia.”

“Ko Ci Teng, kau selalu terlalu percaya diri, selalu mengatakan kau bisa mendapatkanku dan menikahiku. Tapi ketika harus mendengarkan jawabanku, kau menjadi seorang pengecut.”

“Namun kehidupan bukan untuk seseorang saja. Rasa suka pun bukan untuk seseorang saja.”
“Meskipun cintaku dan cintanya tidak berakhir seperti yang diharapkan, tetapi semua masa-masa itu selamanya tidak tergantikan.”
Seperti dalam film, favorit saya adalah :
“Mungkin di dunia pararel yang lain, kita bisa bersama.”
Ketika menulis review ini, saya harus membuka kembali bukunya membuat perasaan campur aduk, rasanya seperti ada sebuah kelereng di kerongkongan.

Maka nikmatilah masa mudamu, jatuh cintalah dan bekali semua itu dengan pemahaman baik.

Rembulan Tenggelam di Wajahmu

0 comments

Foto di atas adalah penggalan prolog dari novel karya Tere Liye yang baru saya baca, Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Prolog yang menggugah, meskipun tidak nerhubungan dengan novel secara keseluruhan.  Novel ini sudah lama terbit, tapi saya baru membeli dan membacanya baru-baru ini. Seperti karya Tere Liye yang lain, Rembulan Tenggelam di Wajahmu berusaha menyajikan sebuah pemahaman baik yang menceritakan tentang sebab akibat, tentang hubungan suatu kejadian dengan kejadian yang lain.
Sebelumnya saya dapat rekomendasi novel ini dari seorang teman OJT saya, saya penasaran karena dia laki-laki dan menyukai novel ala Tere Liye, pasti ada sesuatu di dalamnya.Saya mencoba mencari penjelasan darinya, tapi semuanya abstrak jadi saya memutuskan untuk mencari dan membeli novel ini
Ide dari novel ini tidak lepas dari pemahaman penulis, Tere Liye, bahwasanya sebuah buku haruslah berisi hal-hal baik yang dapat memberikan pengertian kepada pembaca untuk selalu berbuat baik. Menceritakan tentang seorang tokoh utama bernama Rey yang dibesarkan di sebuah panti asuhan. Tokoh utama bukanlah seorang pria baik dan suci, tapi sebaliknya seseorang yang hidupnya penuh konflik dan masalah. Novel ini semacam biografi tentang tokoh utama, dengan setting flashback kita diajak untuk terus penasaran dengan cerita dengan 5 pertanyyan dari tokoh utama
Pertanyaan pertama
Apakah kami memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk dilahirkan?
kedua
Apakah hidup ini adil?
ketiga
Kenapa langit tega sekali mengambil orang yang kita cintai? Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi?
keempat
Setelah semua yang kita capai, ternyata semuanya tetap terasa kosong, hampa
kelima
Kenapa harus mengalami sakit berkepanjangan?


Dengan 5 pertanyaan mendasar, yang mungkin juga sering kita tanyakan, penulis mengajak kita untuk memahami tentang hubungan sebab akibat, gelap-terangnya hidup dan berbagai konflik lain
Tidak lupa, banyak kalimat-kalimat menusuk ala Tere Liye dalam buku ini...

It is a good book to read, to know how great He is.