Showing posts with label Bandung. Show all posts
Showing posts with label Bandung. Show all posts

Situ Patenggang, Pesona Tersembunyi di Bandung Selatan

0 comments
Perjalanan ke Bandung kali ini sangat istimewa karena memakan waktu selama 12 jam, iya 12 jam. Lama perjalanan bukan karena macet tetapi karena kami sedang melakukan perjalanan bersama anggota geng motor (bikers) kantor sehingga untuk sampai di tempat tujuan kami saling menunggu satu sama lain. Saya bersama 6 teman yang lain lebih dulu sampai di penginapan karena kami menggunakan mobil, sementara rombongan motor masih ada di perjalanan.


Sesampainya di penginapaan kami bergiliran mandi kemudian memasak nasi dan makan. Kami menginap di Rancabali di sebuah rumah yang dikelilingi oleh kebun teh yang menghampar luas seperti permadani berwarna hijau. Rumah yang kami tempati terdiri dari 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, dapur serta sebuah ruangan tengah yang cukup luas dan dilengkapi dengan beberapa kasur lipat. Sewa untuk penginapan cukup murah yaitu sebesar Rp 1.300.000,- untuk semalam. Karena jumlah rombongan kami cukup banyak kurang lebih 20 orang sehingga kami menyewa 4 selimut tambahan dengan biaya sewa Rp 25.000,- per selimut. Siang itu rombongan motor belum juga datang akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Situ Patenggang.

Ini adalah kedua kalinya saya ke Situ Patenggang, setelah dua tahun yang lalu saya datang bersama dengan teman-teman dari kantor lama. Situ Patenggang adalah sebuah danau yang dikelilingi kebun teh yang berlokasi di Ciwidey, Bandung Selatan. Pada umumnya ketika wisatawan pergi ke Ciwidey maka kita akan lebih sering mendengar mereka pergi ke Kawah Putih dan Kebun Strawberrynya, padahal masih banyak tempat wisata lain dan salah satunya adalah Situ Patenggang. Kunjungan kedua kali ini agak berbeda, berbeda karena Situ Patenggang sudah banyak mengalami perubahan dibandingkan dengan 2 tahun lalu. Yang paling mencolok adalah dibangunnya pondok-pondok dan jembatan yang terbuat dari bambu, bangunan ini semakin mempermanis keindahan Situ Patenggang. Sebagai catatan tiket masuk per orang untuk weekend adalah Rp 20.500,- sedangkan untuk parkir mobil Rp 11.500,-.


Hujan sore itu di satu sisi menjadikan pemandangan semakin indah tapi disisi lain kami tidak bisa leluasa berjalan apalagi untuk photo-photo karena hujan tidak kunjung berhenti. Beberapa saat kemudian beberapa teman yang naik motor datang menyusul meskipun tidak semuanya. Kami berkumpul di salah satu pondok/gubuk yang langsung menghadap ke Situ dan Kebun Teh lengkap dengan kue cucur yang kami  bawa dari Jakarta serta gorengan yang kami beli di area Situ Patenggang seharga Rp 1.500,- per gorengan.

Sebenarnya ada satu wahana yang patut dicoba yaitu naik kapal ke Pulau Asmara untuk melihat Batu Cinta, berdasarkan mitos masyarakat setempat Pulau Asmara tepatnya Batu Cinta adalah tempat bertemunya sepasang kekasih yang merupakan Putra Prabu dan titisan Dewi yaitu ki Santang dan Dewi Rengganis. Menurut kepercayaan masyarakat pasangan yang mengelilingi Pulau Asmara dan Singgah di Batu Cinta akan mendapatkan restu dari sepasang kekasih tersebut. Ini cuma mitos lho ya, anggap saja ini sumber pengetahuan urusan kepercayaan tidak ada yang lebih baik dibandingkan percaya pada Allah. Karena hujan membuat kami malas beranjak dari gubuk dan memutuskan untuk tidak menyeberang.

Untuk teman-teman yang tidak membawa kendaraan pribadi jangan khawatir karena ada angkutan yang melewati tempat wisata ini. Jika kita sudah ada di Kawah Putih maka dibutuhkan satu kali angkutan menuju Situ Patenggang dan memakan waktu kurang dari setengah jam. Selama itu kita akan disuguhi lukisan alam yang terdiri dari hamparan kebun teh hijau sejauh mata memandang. Menurut saya ini adalah kebun teh terindah yang pernah saya lihat, sebelumnya kebun teh yang pernah saya kunjungi adalah kebun teh lawang yang ada di Malang Jawa Timur serta Kebun Teh yang ada di Puncak Bogor. Kebun teh Walini yang ada di Ciwidey ini dikelola langsung oleh perusahaan BUMN PTPN XII.


Maka jika teman-teman sedang liburan ke Kawah Putih Ciwidey sebaiknya jangan lewatkan pesona Situ Patenggang dan pemandangan alam yang ada di sekelilingnya.

Tempat Wisata di Lembang Bandung, Floating Market dan Curug Omas

1 comments
Floating Market

Konsep dari Floating Market Bandung adalah pasar mengapung seperti yang ada di Sungai Kapuas. Pengunjung dipersilahkan membeli makanan yang dijual di atas perahu dan makanan yang dijual disini kebanyakan adalah makanan tradisional, untuk membeli makanan kita memakai uang koin yang dijual di coin center. Sebagai catatan koin yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan lagi, jadi sebaiknya sebelum kita menukar uang kita dengan koin sebaiknya lebih dulu memilih makanan yang akan kita pesan.


Harga makanan cukup terjangkau, sebagai contoh kami memesan berbagai macam jenis sate, ada yang memesan sate ayam dan juga sate kelinci (kalau yang ini saya ngga tega). Selain makanan berat, ada juga beberapa cemilan diantaranya kentang goreng, tutut dan lain-lain. Oh ya kalo tutut dalam bahasa jawa dikenal dengan istilah kreco. Kreco adalah makanan favorit saya, sebenarnya saya udah ngiler liat plang dengan tulisam tutut tapi karena perjalanan kami masih panjang, saya menahan diri karena kalau makan kreco saya harus siap2 “cepres kabeh”.

Selain makanan yang dijual di atas perahu, beberapa makanan juga dijual di warung-warung yang ada di “daratan”. Saya menemukan sea food dan aneka dimsum saat berjalan-jalan meskipun akhirnya saya ngga nyoba dan lebih memilih membeli di atas perahu. Pemandangan di Floating Market cukup indah terutama untuk saya yang hobi jadi poto model. Saat jalan-jalan saya nemu rumah yang bentuknya agak unik yang mengingatkan saya pada rumah drama Korea Full House. Setelah saya kesana ternyata tidak semua orang bisa masuk, ternyata rumah tersebut adalah rumah untuk pijat refleksi jadi kalau mau masuk kesana kita harus pijat refleksi dulu.

Di Floating Market Bandung juga ada beberapa “gubug” yang menjual berbagai macam souvenir, tempat ini benar-benar di desain dengan konsep tradisional. Bahkan ada sawah dengan model irigasi jaman dulu, dimana aliran airnya masih pake bambu bukan pipa. Souvenir yang dijual diantaranya kaos, mainan anak-anak dan berbagai macam jenis boneka. Bahkan sepanjang saya jalan ada aja yang jualan, mulai dari jajanan snack sampe rujak manis lengkap dengan cobeknya. Saya masih sempat pinjam kincir angin untuk poto,haha.



Setelah puas poto-poto sana sini kami pun segera pulang, karena ada yang harus mengejar travel untuk ke Bandara Soetta. Kamipun akhirnya menuju daerah Pasteur tempat dimana travel menuju Bandara.

Curug Omas

 Curug Omas merupakan bagian dari Obyek Wisata Tahura. Obyek wisata Tahura sendiri terdiri dari Curug Omas (1km), Curug Lalay (2km), Batu Batik (2,2km), Curug Kidang (2,4km), Penangkaran Rusa (2,8km), Curug Koleang (3,3km), Goa Belanda (4,3km), Goa Jepang (5,1km), Kantor BP Tahura (5,5km). Karena waktu kami terbatas sampai sore hari, kami memutuskan pergi ke Curug Omas saja, sebenarnya yang ada di internet yang kami cari adalah Curug Maribaya, tapi kata penduduk sekitar Curug Omas ya Curug Maribaya.

Kami putuskan untuk jalan kaki menuju Curug Omas meskipun banyak ojek yang menawarkan tumpangan. Selain untuk menghemat, itung-itung juga untuk menguruskan badan *yeay*. Sebelum melakukan perjalanan, tak lupa saya jajan dulu. Kali ini saya beli rujak manis sebagai dopping selama di perjanan. Sepanjang jalan masuk menuju curug, banyak pedagang yang berjualan di luar pagar ada yang jual souvenir, buah sampai popmie. Saya tidak membeli karena memang tidak butuh dan bingung bawanya, tapi saya sarankan untuk pengunjung yang lain kalo ada yang dibutuhkan dibeli saja karena saya salut dengan orang-orang seperti mereka yang memilih berjualan daripada meminta-minta.

Jalan masuk menuju Curug Omas cukup tertata rapi, saya pikir pemerintah disini cukup perhatian dalam merawat daerah wisatanya karena sarana prasarana cukup terawat dengan baik. Jalan setapak ini dilengkapi dengan pagar pembatas serta jalan semi aspal yang bisa dilewati sepeda motor. Pantas jika ojek bisa lewat sana dan mereka juga terkoordinir dengan baik. Terdapat tempat peristirahatan di beberapa point, awalnya heran kok pake tempat ginian puat apa. Saya baru nyadar kalau saya baru berangkat dan jalannya turun terus, bisa dibayangkan baliknya nanti bakal kayak gimana.

Dengan mengikuti papan arah penunjuk Curug Omas akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Cukup puas dengan pemandangan yang disajikan disini meskipun tidak bisa “kecek” dan basah-basahan karena posisi air terjun yang ada di bawah kami. Dari papan petunjuk yang saya baca Air Terjun Curug Omas terbentuk oleh aliran Lava yang membeku membentuk berteingkat-tingkat setinggi-tingginya +/- 30m.

Setelah puas melihat-lihat kamipun kembali karena tidak bisa pulang terlalu malam dan juga dari tadi pagi masih belum dapat travel. Perjalanan kembali ke tempat parkir mobil cukup menguras tenaga, dari yang sebelumnya ketika berangkat tidak berhenti sama sekali kali ini berhenti beberapa kali meskipun bukan di stop point untuk istirahat. Dan seperti yang sudah diduga saya berubah menjadi pendiam karena kelelahan. Nino heran dan akhirnya mengikuti saya yang tertinggal dari belakang, saya jelaskan kalau saya capek memang seperti ini berubah menjadi pendiam. Dan alhamdulillah kami akhirnya sampai parkiran juga, saatnya kembali ke Bandung kota.

Kuliner Malam Hari di Karnivor Bandung

0 comments

Karnivor terletak di Jalan Riau Bandung. Dengan menggunakan konsep “hantu” dan dengan menu monster steaknya restoran ini memang patut untuk dicoba Sempat berputar-putar nyari lahan parkir, kami pun turun dari mobil. Pertama kali menuju area Karnivor kami dikagetkan dengan mayat yang bergelantungan di atas pohon, Ayuk menjerit dan mencengkeram tangan saya erat-erat saking kagetnya. Sepanjang pintu masuk kami disambut dengan labu ala halloween yang menambah kesan horor di sini. Setelah menemukan tempat duduk untuk kami ber-8 kami pun memesan makanan, sayangnya steak monster yang kami idam-idamkan sudah habis mungkin karena malam minggu dan resto memang cukup ramai.

Suasana makan disini benar-benar horor, selain beberapa hantu yang dipajang dimana-mana juga dilengkapi dengan kuburannya. Saya sebenarnya pengen pipis, tapi pas cek toiletnya jadi parno sendiri. Sebenarnya tidak akan jadi masalah kalau orangnya ngga penakut kayak saya, karena tempat ini sebenarnya sangat menarik dan unik. Boleh dibilang malah rekomended untuk dikunjungi, yang jelas kalau masalah horor jangan menjadikan saya sebagai patokan karena saya emang bener-bener parno sama hal-hal kyk gini. Nonton pilem hantu aja ngga sanggup apalagi yang beginian,hahaha.

Meskipun menu monster steaknya tidak ada, masih banyak menu yang lain dan yang jelas berhubungan dengan daging yaitu berbagai macam steak dan soup iga. Minuman yang disediakan juga bervariasi.

Untuk harga sebagai berikut dan berlaku tgl 18 Oktober 2014
Selamat menikmati

daftar harga dan menu di Karnivor Bandung