Showing posts with label Daily. Show all posts
Showing posts with label Daily. Show all posts

Tentang Sebuah Perjalanan

7 comments

Banyak yang bertanya kenapa saya tidak pergi ke Jepang dan memilih Korea, mereka bilang bukannya lebih bagus Jepang ya? Dan beberapa teman dekat juga menanyakan hal yang sama karena setahu mereka, saya dari dulu pengennya ke Jepang. Kalau tentang itu jawabannya satu, masalah finansial. Iya finansial, meskipun harga tiket ke Korea tidak jauh berbeda dengan ke Jepang biaya hidup sepertinya jauh berbeda. Saya sering membahas ini dengan teman seperjalanan yang sebenarnya juga prefer ke Jepang. Karena pengen ke Jepangnya ngga pengen tanggung-tanggung dan kebetulan tempat yang paling ingin saya kunjungi adalah Sapporo yang ada di pulau Hokaido, maka dengan budget yang kami miliki itu terdengar mustahil :p

Kemudian dari sisi religi banyak yang sekedar bertanya dan menasehati agar saya umroh terlebih dulu, kalau ini saya tidak bisa menjawab karena ini sesuatu yang bersifat sangat pribadi. Dan akhirnya saya pun tetap menjatuhkan pilihan ke Korea Selatan. Selain tempat tujuan teman seperjalanan adalah faktor yang sangat penting selama perjalanan. Saya termasuk orang yang beruntung karena teman seperjalanan saya ini mau menuruti kegilaan saya. Jika saya adalah seorang imajiner maka dia adalah realis yang sebenarnya.

Persiapan perjalanan kami menempuh perjalanan yang beliku-liku, selama 3 bulan kami benar-benar berhemat dan menahan diri untuk mengeluarkan uang. Belum lagi permasalahan remeh teman untuk persiapan aplikasi visa yang lain. Kami juga sering berdebat pemikiran tentang arti perjalanan ini, dan hal ini yang membuat kami lebih menghargai perjalanan kami. Untuk itinerary teman saya bertugas membuat jadwal perjalanan selama di Seoul, sementara saya kebagian luar kota (luar propinsi tepatnya). Meskipun saya berteriak curang kepadanya tetapi sebenarnya ini menguntungkan saya karena bisa memilih tempat sesuka hati. Mungkin karena dia realistis jadi dia memilih menyerahkan yang diluar jangkauan kepada pengkhayal seperti saya. Setelah senang bisa milih tempat yang ingin saya kunjungi, saya mulai pusing karena alamat yang saya temukan di google map cuma huruf han-geul. Disanalah perjuangan baru dimulai.

Awalnya kami berencana ke Jeju, kalau Jeju mungkin lebih mudah karena familiar dengan turis asing tapi kemudian kami berfikir selama di Seoul tempat-tempat yang kami kunjungi sudah cukup mainstream jadi ada baiknya kita pilih tempat yang agak beda. Nami island dan tempat lain di Seoul sudah cukup mewakili tempat yang wajib dikunjungi di Korea. 

Pertama kali menginjakkan kaki di negeri gingseng yang ada di batin saya  adalah “Indonesia jauh lebih indah” dan ini diamini oleh celetukan teman saya yang bilang “lihat rumput bandaranya masih coklat, coba kalau di Indonesia warnanya ijo seger”. Mungkin ungkapan ini terjadi karena badan kami yang menolak hawa dingin yang menyambut kami di hari pertama. Sepanjang jalan kami menggerutu “appaaa, ini musim semi kenapa dingin bangeeet???”

Sebuah perjalanan menjadi indah ketika kita sudah bersentuhan dengan kebudayaan sekitar. Hal yang membuat kami terkagum-kagum pada negara ini justru pada budaya dan manusianya. Di hari pertama, ketika kami kebingungan mencari penginapan, ahjumma-ahjumma memperhatikan kami, menyapa dan memberikan kami kopi. Mereka tau kami yang tersesat dan kedinginan, karena bahasa Inggris yang terbatas mereka mengenalkan kami pada Oppa ganteng yang akhirnya menunjukkan kami jalan ke penginapan.

Karena tidak memakai travel agent, kami bebas mengatur jadwal kami sesuka hati. Kami suka berjalan berputar-putar di area penginapan dan kota untuk mengamati kegiatan yang ada disana, kami sering melihat Bapak-Bapak di jam kerja yang memakai jas bermain di taman bersama anak-anaknya. Pernah juga melihat di sebuah pusat perkantoran di Seoul seorang Ibu dan anak bayinya menjemput ayahnya yang sedang bekerja, kemudian pulang bersama dengan bayi digendong si ayah. Dan banyak hal sederhana lain yang membuat saya ingin berteriak “wowww daebak”.

Kami bertemu dengan banyak orang baik selama di perjalanan. Kami juga bertemu dengan ibu hamil dari Bandung penggemar Running Man yang mengejar Jae Suk sampai Paju (perbatasan Korea Utara). Dengan ditemani suami ia berhasil bertemu dengan full member Running Man, katanya rejeki jabang baby karena sebelumnya ia sudah pernah mengejar sampai Singapura dan nginep satu hotel tetep ngga ketemu. Meskipun kami tidak bertemu anggota RM kami cukup senang mendengar cerita mereka, seperti merasakannya langsung.

Saat pertama kali ada di sebuah kota kecil di luar Seoul, saya mulai panik dan kebingungan. Apalagi kalau bukan karena huruf Han-Geul yang ada disana, belum lagi karena penghuni kota yang sepi dan tenang itu adalah para lansia dan hampir tidak ada anak muda sm sekali. Saya sudah siap dimarahi sama teman saya kalau tidak bisa nyampe penginapan, karena kota ini memang pilihan saya gara-gara pengen tau tenpat syutingnya mbak Chae Won sama mas Joong Ki. Ketika mau hampir frustasi saat menunggu bus, muncullah dua Unnie yang sebelumnya kami tanyai. Kali ini mereka membawa mobil dan menyuruh kami masuk, dan kami pun bengong untuk sesaat. Saya tidak begitu yakin karena seingat saya di google map jarak terminal dan penginapan kami cukup jauh. Dan ternyata kami benar-benar diantar ke penginapan!!! Ya ampuuuun baik banget mbak e (rasanya pengen teriak begitu).

Nyasar sudah menjadi makanan kami sehari-hari selama disana, dan kami justru puas karenanya. Badan kami benar-benar diuji, karena selama perjalanan kami juga harus menggunakan bahasa tubuh. Bahkan untuk membeli obat sejenis counterpain kami harus menjelaskan dengan sepenuh hati supaya dimengerti. Di bus yang kami naiki seringkali cuma kami anak mudanya, membuat saya berfikir dimana anak-anak mudanya. Apakah mereka sedang bekerja? Atau sekolah? Atau pindah ke kota besar semua?. Tidak ada yang menjawab karena tidak ada yang bisa kami tanyai.

Banyak kejadian-kejadian sederhana yang membuat kami bahagia, dan mungkin akan kami kenang sendiri. Banyak keindahan yang tidak bisa kami abadikan lewat lensa kamera meskipun koleksi photo jumlahnya mencapai ribuan karena beberapa keindahan hanya bisa diabadikan lewat lensa ciptaan Tuhan.
My first and the second dream both feels as if are further away than 10.000.000 km. Even if it rather far fetched, I believe in it. If you don’t give up your dream will come true. If you are fated then you will meet” Cha Young Shin - Healer


Tag : Daily

Terima kasih karena telah menemaniku

0 comments
Kita akan melakukan perjalanan ini bersama
Dalam perencanaan dan pelaksanaannya
Kita memulainya dengan penuh pertanyaan
Akan pergi kemana kita nanti?
Bisakah kita pulang ke rumah tanpa tersesat?

Kita tak bisa menjawab pertanyaan pertanyaan itu sekarang
Kita cuma yakin ada arus yg akan membawa kita pulang
Sebuah arus tak kasat mata yg juga membawa kita ke tempat ini
Dan tempat tempat lain yg mungkin akan kita kunjungi

Terima kasih karena telah menemaniku
Menjawab semua ragu yg sering kulontarkan padamu
Terima kasih karena tak pernah menghakimi
Pada semua keputusan bodoh yang telah kujalani

Terima kasih karena percaya
Pada jalan jalan rumit yg kupilih saat kita mendaki bersama

Apakah kita akan melanjutkan perjalanan ini?
Atau tetap disini, di tempat yg sekarang kita singgahi?
Karena aku mulai tak peduli
Asalkan kau tetap disini dan menemaniku

Jakarta 16 Januari 2015

While listening to Adele's song

"Should I give up?
Or should I just keep chasin' pavements
Even if it leads nowhere?
Or would it be a waste
Even if I knew my place?
Should I leave it there?
Should I give up?
Or should I just keep chasin' pavements
Even if it leads nowhere?"

Tag : Daily

Politik Itu Bukan Sepakbola, Bung!

0 comments

Tumbuh di antara dua laki-laki penggemar Sepak Bola membuat saya sedikit memahami rasa cinta penggemar sepak bola. Mungkin tidak semaniak saya terhadap K-Drama ataupun K-Pop, bahkan bisa dibilang saya cuma "pengamat" penggemar Sepak Bola. Saya sendiri lebih kuat melek ketika melihat K-Drama dibandingkan ketika harus begadang karena pertandingan bola. Mata saya biasanya kriyep kriyep sambil terus bertanya sama si Adek, berapa skornya?. Pertanyaan itu biasanya diakhiri dengan kalimat "Ngaliho ae mbak, turu kono lho" yang artinya pergi mbak, tidur sana. Saya pun menyingkir sambil menggigit dan memeluk guling kesayangan.

Piala Dunia kali ini agak berbeda karena datangnya bersamaan dengan pilpres di Negara ini. Seorang teman mengeluh di ujung telepon, gegap gempita Piala Dunia kurang terasa. Kami berdua menyimpulkan karena stasiun TVnya yang kurang menyajikan interface dengan baik, berbeda dengan stasiun TV terdahulu, sebut saja si R yang benar-benar total ketika menyiarkan piala dunia. Total disini karena si R mengemas Piala Dunia menjadi kesatuan tidak hanya menyajikan pertandingannya saja. Segala pernak-pernik, nonton bareng, bahkan iklannya pun lebih banyak. Kalau teman-teman amati si R bahkan mengemas acara lain menjadi bagian dari piala dunia, begitulah Piala Dunia yang dulu. Kalau yang sekarang Piala Dunia diselingi dengan Debat Pilpres, bukan cuma debat antar capresnya tapi juga pendukungnya bikin pusing dan mual saja.

Sebagai orang Indonesia yang selalu bilang “untung saja” , kita wajib juga mengatakan “untung saja” masih disiarkan TV lokal coba kalau TV kabel, bisa berabe deh. Meskipun kecewa, sebagai warga Negara yang baik saya harus mengapresiasi stasiun televisi yang memberikan porsi lebih untuk pesta demokrasi kali ini, mungkin itu artinya kita lebih peduli kepada masa depan bangsa ini dibandingkan dengan Piala Dunia yang kita ikut saja tidak. 

Tentang Pilpres dan Sepak Bola

Keduanya sama-sama punya penggemar, keduanya sama-sama dibagi menjadi beberapa kubu, keduanya sama-sama ada pihak yang kalah dan yang menang. Lalu apa bedanya?

Jawabannya, ada satu hal yang berbeda dan itu mutlak adanya.

Masih ingat pemilu 2004 dan 2009? Masih ingatkah kita betapa mayoritas masyarakat kita memuja-muja sang Jendral dengan segala daya upaya? Media pun juga ikut-ikutan lebay, atau malah media yang bikin masyarakat kita lebay waktu itu, entahlah yang jelas euphoria waktu itu juga luar biasa. Lalu apa yang terjadi sekarang? Apa yang kita lakukan pada si Jendral dengan kantung matanya yang terus menghitam?

Menghujatnya. Itulah yang kita lakukan sekarang.

Tidak ada musuh dan teman yang abadi dalam politik, begitu katanya

Jujur saja saya sedih melihat kenyataan ini, bagaimanapun juga beliau adalah presiden kita. Saya mengatakan ini bukan karena saya pendukungnya. Waktu pemilu 2009, sebenarnya saya mau coblos capres yang lain tapi krn permintaan sang Ibu yang waktu itu nggondok akhirnya saya pilih si Jendral. Bagi saya waktu itu sama saja, toh si Jendral juga bakalan menang meskipun nggak saya pilih karena hasil pemilu saat itu tidak “segelap” pemilu kali ini. Coblosan saat itu murni karena ingin menyenangkan hati Ibu, maklum Ibu saya fan fanatic si Jendral mungkin kadar nge-fansnya sama kayak saya nge fans Joong Ki, hihihi. Sementara si Bapak tetap nyoblos capres lain yang sebenarnya sama kyk pilihan saya. Dan Alhamdulillah Ibu tetap setia mengagumi si Jendral di tengah hiruk pikuk hujatan masyarakat dan media saat ini.

Lalu bagaimana dengan sepak bola?

Fanatisme pecinta bola jauh berbeda dengan fanatisme politik, jika di dunia politik tidak ada musuh dan kawan yang abadi maka sepak bola sebaliknya. Penggemar bola biasanya konsisten menjadi penggemar klub tertentu. Menang atau kalah mereka tetap menjadi penggemar klub tersebut. Konsistensi ini yang membedakan antara politik dan sepak bola.

Menyambut pesta demokrasi kita kali ini (pilpres) dan piala dunia, ada satu hal lagi yang berbeda dari keduanya. Kemenangan tim favorit kita di piala dunia adalah akhir dari perjuangan karena setelah juara piala dunia tahun 2014, tugas mereka selesai sampai disana. Mereka juara, titik. Tapi kemenangan salah satu calon presiden bukanlah akhir dari segalanya, kemenangan ini justru titik awal perjalanan dan perjuangan bangsa ini. Dari titik inilah semuanya dimulai, bahkan kita punya tugas yang lebih berat dari sekedar membela mati-matian capres sebelum hari pencoblosan sampai mencoblos gambarnya di bilik suara.

Tugas yang sebenarnya baru dimulai setelah itu, siapapun yang terpilih kita punya tugas yang sama yaitu mengawasi calon terpilih nanti. Sebenarnya tugas terpenting adalah menjadi warga negara yang bukan hanya sekedar baik tapi juga kompeten, tapi saya yakin teman-teman sudah memulainya dari sekarang bukan? Dari perdebatan pilpres ini saja saya liat banyak dari masyarakat Indonesia yang punya wawasan luas.

Kadang agak terganggu dengan pertengkaran soal pilpres, tapi disisi lain saya juga senang. Kalau mengambil sisi positifnya, bukankah tanpa kita sadari pengetahuan kita bertambah seiring perhelatan pilpres ini? Banyak yang mendadak paham soal HAM, Laut China Selatan, Tank, sejarah Indonesia dan pengetahuan yang lain. Bukankah begitu :p

Yang jelas apapun pilihan kita dan siapapun presiden terpilih nanti, jangan biarkan ia berjuang sendirian.

Tag : Daily

Yang Tebaik

0 comments
Yang terbaik

Entahh sejak kapan saya mendengar istilah ini. Tapi pemahaman akan kata "yang terbaik" tidak begitu saja datang, perlu proses untuk memahaminya.

Oktober 2010, setelah di wisuda dari kampus tercinta layaknya pencari kerja yang lain, saya hunting kesana kemari. Tak ada bosan memasukkan berlembar-lembar CV ke amplop coklat dan mengirimkannya lewat pos ataupun job fair kampus. Sampai pada akhirnya, saya fokus pada satu lowongan pekerjaan yang mengantar saya sampai pada tes tahap akhir. Well, I am so glad you know. Pekerjaan ini bukan saya saja yang menginginkannya, tetapi juga orang tua saya. Tidak bisa saya bayangkan, betapa senangnya mereka jika saya bisa diterima. Sampai pada pengumuman tahap akhir, saya menunggu dan terus menunggu. Sesekali saya contact dengan peserta tes lain, termasuk dengan kompetitor saya sendiri. Sebagai catatan, yang diambil hanya satu, otomatis jika saya diterima maka dia tidak, begitu pula sebaliknya. Komentar pertama yang keluar dari mulutnya hanya "minta saja yang terbaik". Saya megiyakan, tapi dalam hati merengek tanpa henti ingin saya yang diterima. Toh teman saya itu sudah bekerja, saya lebih membutuhkan pekerjaan ini di banding siapapun.

Sampai pada hari pengumuman itu datang. Saya cek website, dan mata saya tertuju pada nama teman saya itu. Saat itu saya masih berharap menemukan nama saya disana, berharap ada keajaiban disana. Berharap mungkin panitia memutuskan mengambil kami semua, atau kemungkinan-kemungkinan yang lain. Setelah mata saya lelah mencari nama saya, kemudian berganti tubuh saya mulai lemas, saya pulang ke rumah dan berharap bisa kuat. Akhirnya menangis sejadi-jadinya dipelukan ibu. Saya berusaha menerima, mungkin ini yang terbaik, tapi hati saya tak henti berontak dan bertanya mengapa. Karena jujur saja, saat itu saya hanya fokus disana, tidak mencoba aplly ke tempat lain karena tidak ingin konsentrasi saya pecah. Jadi ketika gagal, saya tidak punya pegangan lain lagi.

Dan hidup terus berlanjut. Beruntung saya punya ibu yang luar biasa, yang selalu bisa membuat saya bangkit dan hidup lagi. Setelah itu saya kesetanan mencari kerja. Mulai memasukkan berlembar-lembar CV ke amplop berwarna coklat kembali. Menjadi pengangguran itu rasanya tersiksa, lbh tersiksa dibanding deadline Tugas Akhir. Dan ibu saya yang luar biasa pun mempersilahkan saya liburan tahun baru di Bali. Jangan kira orang tua saya kaya karena menyuruh tahun baruan ke Bali, tapi mereka memang sellau tau apa yang dibutuhkan anaknya. Dan liburan tahun baru itu memang sangat murah, makanya saya mau

Liburan tahun baru dengan teman-teman baru sungguh sangat luar biasa. Too many story,.. Dalam hati saya bilang,kalau saya jadi ketrima, saya ngga bisa menikmati tahun baru di Bali dan bertemu orang-orang ini. Sepulang dari Bali perburuan kembali di mulai dan tibalah saya di Tjiwi Kimia. Entah bagaimana prosesnya, saya ada disana.

Akhirnya saya diterima dan bekerja di Tjiwi Kimia. Banyak cerita, banyak pelajaran dan tentu saja banyak teman. satu per satu dari makna "yang terbaik" mulai saya dapatkan. Banyak pelajaran hidup yang saya dapat. Perasaan bahagia itu datang bergantian, saya tidak pernah lupa bahwa saya pernah gagal dan sangat kecewa. Dan ingatan itu mengajarkan untuk menghargai apa yang saya miliki saat ini. Kebahagiaan-kebahagian itu datang untuk membuktikan bahwa "yang terbaik" itu memang selalu indah.

Waktu berlalu dan saya tidak bertambah bijak, bahkan masih alay dan lebay. Masih suka harap-harap cemas akan apa yang terjadi besok. Masih selalu berharap apa yang saya harapkan akan terjadi, masih mendendangkan hal-hal sendu jika itu tidak terwujud. Masih merengek manja pada sahabat tentang keinginan-keinginan hati yang tidak pernah berhenti meminta.

Meskipun begitu, tak lupa saya selipkan "yang terbaik" di balik harapan-harapan egois itu. Berharap Dia lah yang memilihkannya, sama atau tidak dengan harapan saya, pasti pilihanNya yang terbaik. Syukur-syukur kalau sama, indahnya harapan itu jika sudah disertai ridhoNya. Tapi jika tidak, maka saya harus belajar lagi, belajar banyak hal untuk menerima dan mengerti, untuk kembali memahami arti "yang terbaik". Manusia berhak memilih dan wajib untuk memperjuangkan apa yang diinginkan, tapi Dia lah Maha Mengetahui segala sesuatu. Karena pilihan manusia boleh salah, tapi Dia tidak akan pernah salah.

Kata mbah Einsten di hukum relativitasnya, satu-satunya kepastian di dunia ini adalah ketidak pastian itu sendiri. Dan Tuhan memelihara ketidakpastian itu kepada seluruh umat manusia agar manusia terus belajar, terus bermimpi dan ujung-ujungnya kita akan kembali kepada-Nya | 5 cm

Tag : Daily