Review Penginapan di Singapura : 5footwayinn Project Boat Quay

0 comments
Setelah baca dimana-mana dan tanya sana sini akhirnya kami (saya lebih tepatnya) memutuskan untuk menginap di 5footwayinn Boat Quay. Kami putuskan untuk tidak berpindah hostel selama ada disana untuk efisiensi waktu. Saya dapat rekomendasi dari dua orang teman, yang pertama adalah mbak Vika yang pernah menginap di 5footwayinn China Town Project dan sahabat saya kuliah si Ega yang memang pernah menginap disini selama 2 hari. Keduanya saya kenal punya pengalaman dan selera yang cukup bagus untuk penginapan.

Kami booking tanggal 05 Agustus 2014, kurang lebih 3 minggu sebelum berangkat. Saya langsung booking ke webnya langsung di www.5footwayinn.com/links/project-boat-quay.html untuk harga yang lebih murah mungkin bisa booking jauh-jauh hari di web promo semacam agoda atau yang lain. Kami disana berempat jadi kami memesan kamar dengan isi 4 orang, di web saya baca bahwa kamar yang isinya 4 orang itu tulisannya superior room dan disana ada keterangan “with window” alias pake jendela. Jadi meskipun hostel jangan bayangkan kamarnya pengap gtu, karena kamar kami langsung ngadep ke jendela dan pemandangannya woww banget. Kamar kami langsung menghadap Singapura River dan view langsung ke Marina Bay. Absolutely great room! Beberapa point yang [erlu diperhatikan terkait hostel ini :

1. View
Salah satu alasan kenapa saya memilih menginap disini adala karena viewnya yang menggoda, langsung menghadap ke Marina Bay. Berhubung saya belum mampu nginep di Marina Bay ya cari penginapan yang bisa memandang langsung salah satu icon Singapura tersebut.

2.    Lokasi
 Nah ini juga jadi point penting kenapa saya milih nginep disini meskipun mahal (jika dibandingkan hostel lain, bahkan dibanding project 5footwayinn yang lain). 5footwayinn Boatquay beralamat di 76 Boatquay Singapura. Lokasinya dekat sekali dengan Merlion Park, Cavenah Bridge dan lain-lain semua bisa dijangkau dengan jalan kaki 5-10 menit. Stasiun MRT terdekat ada dua yaitu Rafles dan Clarke Quay jadi kalo mau kemana-mana tinggal pilih dua stasiun itu. Keluar dari penginapan ke arah kanan kita menuju Rafles sedangkan ke kiri kita ke stasiun Clake Quay. Jangan lupa tanya ke resepsionis sebelum berangkat karena ini akan membantu kita memilih jalur trasnportasi yang tepat. Oh ya disini juga bisa di dapat tiket Universal Studio yang lebih murah dibanding di USSnya. Disini saya dapat SGD70 sedangkan di USS SGD 74.

3.    Makanan


Hostel menyediakan sarapan berupa roti dan buah tetapi tidak untuk makan siang dan makan malam. Tapi jangan kuatir, dekat penginapan terdapat Mc D yang bisa kita datangi kapan saja karena ini 24 jam. Asalkan ngga bosan kita bisa mampir kesini saat lapar menyapa dan merasa kesulitan untuk cari makanan yang familiar di lidah dan murah (range harga 3-5 SGD). Oh ya mohon maaf saya tidak memperhatikan label halal disana karena saya berpikir sama kayak di Indonesia, saya baru sadar ketika tidak ada nasi disana artinya setiap negara pasti beda penyajian ya (bodo banget saya). Kalo ga ada labelnya plg ngga bisa pesen kentang dan burger tanpa daging untuk ganjal perut. Smoga halal, Wallahualam.. Tentang halal menghalal bisa juga dipilih makanan di pinggir Singapore River meskipun tidak sehat untuk kantong tapi beberapa penjual ketika melihat saya yang pake kerudung mengatakan makanannya halal. Saya sempat mencoba dan ternyata harganya memang fantastis, lha wong cah kangkung aja kalo di kurs kan harganya bisa sampe 200rb bo’ gimana ngga nangis saya liat daftar menunya....

4.    Harga 
Nah kalo harga bisa langsung dicek di webnya. Tapi untuk saya sendiri, ketika ngitung harga penginapannya ternyata lumayan bo’. Seperempat uang saku slama disini bisa habis untuk penginepannya aja. Jadi ini rinciannya :

Catatan :
Booking diatas untuk 4 orang, selama 3 malam
-    Untuk hari minggu rate hostel lebih mahal yaitu SGD 176 (hari biasa SGD 160)
-    Yang harus dibayarkan saat booking sebesar USD 52,16 (yang ini US dollar ya)
-    Yang harus dibayar saat check in adalah SGD 436,48.

Sesampainya disana kita nambah SGD 20  untuk satu kunci sebagai deposit, tapi uang ini akan dikembalikan lagi ke kita ketika check out. Jadi tidak perlu khawatir, sewa kunci sebutuhnya aja. Kalo butuh 4 ya sewa 4, toh duitnya juga balik. Kami putuskan sewa satu karena sudah pasti kami bakal ber4 kemana-mana.

Untuk foto kamar, saya belum sempat foto karena keburu istirahat dulu sebelum moto kasurnya, kondisi kurang lebih sama kayak di web hostel.

Sekian reviewnya, smoga bermanfaat. Jangan sungkan untuk tinggalkan komentar. Terima kasih.

Tag : Traveling, Singapura

Review Buku You're The Apple Of My Eye

0 comments
Mood membaca sedang menyusut drastis,

Gambar yang ada di blog terhapus sudah, mau mbenerin rasanya no time.

Dan akhirnya saya ambil buku “You’re The Apple Of My Eye” dari rak, membacanya sedikit-sedikit dan memutuskan untuk membuat reviewnya.


Buku ini selalu menari untuk dibaca, lagi dan lagi
Judul Buku :You’re The Apple Of My Eye
Penulis : Giddens Ko
Penerbit : Penerbit Haru
Jenis : Semi-Autobiography

Saya terlebih dulu menonton filmnya, sebelum membaca bukunya. Seperti yang telah saya bahas sebelumnya disini saya menyukai film You’re The Apple Of My Eye, berharap bukunya terbit di Indonesia dan akhirnya itu terjadi. Perbedaan klasik selalu terjadi antara film dan buku, buku seringkali lebih detail dalam membahas sebuah cerita dan tentu saja kita lebih bebas menggambarkan ceritanya. Menurut saya semua memeliki keunggulan masing-masing, tergantung selera. Kita merasa buku lebih baik lebih karena apa yang kita pikirkan ketika membaca tidak sama dengan yang divisualisasikan oleh aktor dan sutradara.

Lalu bagaimana dengan buku You’re The Apple Of My Eye?


Menurut saya buku ini cukup “ringan” untuk dibaca dan membuatmu tidak bosan untuk melanjutkannya. Jika dibandingkan filmnya, buku ini juga lebih detail dalam menggambarkan kisah hidup Ko Ci Teng (Giddens Kos). Di film menceritakan tentang kehidupan Ko Ci Teng ketika SMA, tetapi di buku semuanya telah dimulai ketika ia SMP. Disini juga diceritakan orang yang disukai Ko Ci Teng sebelum Sen Cia Yi, seperti saat melihat filmnya membaca buku ini membuat kita mengingat kebodohan kita sendiri.

Buku ini penuh pesan dan cocok untuk untuk semua kalangan, dengan bahasa ringan tetapi punya pesan mendalam.

“Prolog”
Mereka duduk depan belakang,
Titik-titik biru mulai menodai bagian belakang si anak lelaki
Ketika ia menoleh, senyuman si gadis membuat si anak lelaki bermimpi selama delapan tahun

Dan terbelenggu seumur hidup
Berikut beberapa cuplikan (quote) favorit saya di buku ini:
“Setelah setengah jam, bidak caturku terus menerus diambil, sehingga pertahananku terlalu lemah untuk menyeberang ke area lawan. Ternyata begitu. Permainan catur itu seperti hubunganku dengan Sen Chia Yi. Beberapa tahun kemudian, tak peduli betapa kerasnya aku berusaha selamanya aku hanya bisa bercerita di blog.”

“Kekuatan fisik manusia sangat besar, begitu besarnya sehingga tidak akan habis digunakan untuk tindakan-tindakan bodoh di masa muda.”

“Benar. Menyukai seseorang yang tepat akan membuat kita berseri-seri. Berseri-seri hingga delapan tahun.”

“Di salah satu titik terpenting dalam hidup, aku mengerti aku dan Sen Chia Yi memiliki sifat yang bertentangan. Dari awal, aku sudah tau perbedaan ini.”

“Delapan tahun menyukai membuat kami memiliki hubungan yang dalam. Mungkin tidak sedekat pasangan, tetapi lebih dekat dari seorang teman. Itu adalah belenggu.”

“Ternyata disukai oleh dirimu membuatku sangat bahagia.”

“Ko Ci Teng, kau selalu terlalu percaya diri, selalu mengatakan kau bisa mendapatkanku dan menikahiku. Tapi ketika harus mendengarkan jawabanku, kau menjadi seorang pengecut.”

“Namun kehidupan bukan untuk seseorang saja. Rasa suka pun bukan untuk seseorang saja.”
“Meskipun cintaku dan cintanya tidak berakhir seperti yang diharapkan, tetapi semua masa-masa itu selamanya tidak tergantikan.”
Seperti dalam film, favorit saya adalah :
“Mungkin di dunia pararel yang lain, kita bisa bersama.”
Ketika menulis review ini, saya harus membuka kembali bukunya membuat perasaan campur aduk, rasanya seperti ada sebuah kelereng di kerongkongan.

Maka nikmatilah masa mudamu, jatuh cintalah dan bekali semua itu dengan pemahaman baik.

Politik Itu Bukan Sepakbola, Bung!

0 comments

Tumbuh di antara dua laki-laki penggemar Sepak Bola membuat saya sedikit memahami rasa cinta penggemar sepak bola. Mungkin tidak semaniak saya terhadap K-Drama ataupun K-Pop, bahkan bisa dibilang saya cuma "pengamat" penggemar Sepak Bola. Saya sendiri lebih kuat melek ketika melihat K-Drama dibandingkan ketika harus begadang karena pertandingan bola. Mata saya biasanya kriyep kriyep sambil terus bertanya sama si Adek, berapa skornya?. Pertanyaan itu biasanya diakhiri dengan kalimat "Ngaliho ae mbak, turu kono lho" yang artinya pergi mbak, tidur sana. Saya pun menyingkir sambil menggigit dan memeluk guling kesayangan.

Piala Dunia kali ini agak berbeda karena datangnya bersamaan dengan pilpres di Negara ini. Seorang teman mengeluh di ujung telepon, gegap gempita Piala Dunia kurang terasa. Kami berdua menyimpulkan karena stasiun TVnya yang kurang menyajikan interface dengan baik, berbeda dengan stasiun TV terdahulu, sebut saja si R yang benar-benar total ketika menyiarkan piala dunia. Total disini karena si R mengemas Piala Dunia menjadi kesatuan tidak hanya menyajikan pertandingannya saja. Segala pernak-pernik, nonton bareng, bahkan iklannya pun lebih banyak. Kalau teman-teman amati si R bahkan mengemas acara lain menjadi bagian dari piala dunia, begitulah Piala Dunia yang dulu. Kalau yang sekarang Piala Dunia diselingi dengan Debat Pilpres, bukan cuma debat antar capresnya tapi juga pendukungnya bikin pusing dan mual saja.

Sebagai orang Indonesia yang selalu bilang “untung saja” , kita wajib juga mengatakan “untung saja” masih disiarkan TV lokal coba kalau TV kabel, bisa berabe deh. Meskipun kecewa, sebagai warga Negara yang baik saya harus mengapresiasi stasiun televisi yang memberikan porsi lebih untuk pesta demokrasi kali ini, mungkin itu artinya kita lebih peduli kepada masa depan bangsa ini dibandingkan dengan Piala Dunia yang kita ikut saja tidak. 

Tentang Pilpres dan Sepak Bola

Keduanya sama-sama punya penggemar, keduanya sama-sama dibagi menjadi beberapa kubu, keduanya sama-sama ada pihak yang kalah dan yang menang. Lalu apa bedanya?

Jawabannya, ada satu hal yang berbeda dan itu mutlak adanya.

Masih ingat pemilu 2004 dan 2009? Masih ingatkah kita betapa mayoritas masyarakat kita memuja-muja sang Jendral dengan segala daya upaya? Media pun juga ikut-ikutan lebay, atau malah media yang bikin masyarakat kita lebay waktu itu, entahlah yang jelas euphoria waktu itu juga luar biasa. Lalu apa yang terjadi sekarang? Apa yang kita lakukan pada si Jendral dengan kantung matanya yang terus menghitam?

Menghujatnya. Itulah yang kita lakukan sekarang.

Tidak ada musuh dan teman yang abadi dalam politik, begitu katanya

Jujur saja saya sedih melihat kenyataan ini, bagaimanapun juga beliau adalah presiden kita. Saya mengatakan ini bukan karena saya pendukungnya. Waktu pemilu 2009, sebenarnya saya mau coblos capres yang lain tapi krn permintaan sang Ibu yang waktu itu nggondok akhirnya saya pilih si Jendral. Bagi saya waktu itu sama saja, toh si Jendral juga bakalan menang meskipun nggak saya pilih karena hasil pemilu saat itu tidak “segelap” pemilu kali ini. Coblosan saat itu murni karena ingin menyenangkan hati Ibu, maklum Ibu saya fan fanatic si Jendral mungkin kadar nge-fansnya sama kayak saya nge fans Joong Ki, hihihi. Sementara si Bapak tetap nyoblos capres lain yang sebenarnya sama kyk pilihan saya. Dan Alhamdulillah Ibu tetap setia mengagumi si Jendral di tengah hiruk pikuk hujatan masyarakat dan media saat ini.

Lalu bagaimana dengan sepak bola?

Fanatisme pecinta bola jauh berbeda dengan fanatisme politik, jika di dunia politik tidak ada musuh dan kawan yang abadi maka sepak bola sebaliknya. Penggemar bola biasanya konsisten menjadi penggemar klub tertentu. Menang atau kalah mereka tetap menjadi penggemar klub tersebut. Konsistensi ini yang membedakan antara politik dan sepak bola.

Menyambut pesta demokrasi kita kali ini (pilpres) dan piala dunia, ada satu hal lagi yang berbeda dari keduanya. Kemenangan tim favorit kita di piala dunia adalah akhir dari perjuangan karena setelah juara piala dunia tahun 2014, tugas mereka selesai sampai disana. Mereka juara, titik. Tapi kemenangan salah satu calon presiden bukanlah akhir dari segalanya, kemenangan ini justru titik awal perjalanan dan perjuangan bangsa ini. Dari titik inilah semuanya dimulai, bahkan kita punya tugas yang lebih berat dari sekedar membela mati-matian capres sebelum hari pencoblosan sampai mencoblos gambarnya di bilik suara.

Tugas yang sebenarnya baru dimulai setelah itu, siapapun yang terpilih kita punya tugas yang sama yaitu mengawasi calon terpilih nanti. Sebenarnya tugas terpenting adalah menjadi warga negara yang bukan hanya sekedar baik tapi juga kompeten, tapi saya yakin teman-teman sudah memulainya dari sekarang bukan? Dari perdebatan pilpres ini saja saya liat banyak dari masyarakat Indonesia yang punya wawasan luas.

Kadang agak terganggu dengan pertengkaran soal pilpres, tapi disisi lain saya juga senang. Kalau mengambil sisi positifnya, bukankah tanpa kita sadari pengetahuan kita bertambah seiring perhelatan pilpres ini? Banyak yang mendadak paham soal HAM, Laut China Selatan, Tank, sejarah Indonesia dan pengetahuan yang lain. Bukankah begitu :p

Yang jelas apapun pilihan kita dan siapapun presiden terpilih nanti, jangan biarkan ia berjuang sendirian.

Tag : Daily

Review Drama Korea Fashion King

4 comments
Setelah kecewa dengan beberapa drama yang saya liat akhir-akhir ini yang diakhiri dengan Lie To Me yang geje abis, akhirnya nemu satu drama yang agak nendang.


Banyak yg bilang endingnya jelek, ngga ada pesan kyk drama Korea lainnya dan alasan yang lain. Tapi saya bisa katakan, drama ini bagus! Hahhaa. Kenapa? Kenapa? Saya harus punya alasan kuat, krn mungkin yang bersebrangan dengan saya bakal lebih banyak. Yuk kita bahas satu persatu...

Tema
Kebanyakan drama korea lebih menonjolkan perseteruan dua wanita, di Fashion King mungkin ada Choi Anna dan Lee Ga Young tapi point utamanya bukan mereka berdua. Point utama di drama ini adalah ego dan harga diri dua lelaki yaitu Jung Jae Hyuk dan Kang Young Gul. Lamaa rasanya saya nggak liat drama dengan dua tokoh utama lelaki yang kuat, drama terakhir dengan dua tokoh utama lelaki yang kuat yang saya ingat adalah Memories of Bali selebihnya saya sudah lupa. Dan ternyata usut punya usut, penulisnya Fashion King sama kyk Memories of Bali. Lagi-lagi, saya tanpa sengaja jatuh cinta pada drama dengan penulis drama yang sama. Setelah Lee Kyung Hee dengan Nice Guy dan drama lain, kali ini giliran Kim Ki Hoo dengan Fashion King


Akting
Hellooo, akting? Jangan diragukan lagi kalo masalah satu ini. Yoh Ah In sudah terbukti berkali2 sebagai aktor hebat dengan akting yang dae bak. Dan disini dia bisa memerankan tokoh Kang Young Gul yang temperamental dengan baik, gaya rambutnya pun disesuaikan. Kalo Lee Jee Hoon, saya liat pertama kali dia di movie Architecture 101 dan langsung jatuh cinta. Waktu itu dia memerankan masa mudanya Uhm Tae Wong dengan baik dan terbukti pilemnya sukses di pasaran. Sementara itu disini dia berperan jadi chaebol cakep, jujur saja saya lebih suka si Jae Hyuk dari pada Youn Gul jadi yaa pasti aktinya bagus!haha. Yuri dan Shin She Kyung juga berakting cukup bagus, untuk seorang Yuri yang notabenya anggota SNSD aktingnya disini sangat baik. Drama ini tayang hampir bersamaan dengan Love Rain yang dibintangi Yoona SNSD dan banyak yang membandingkan akting keduanya dan tentu saja menurut saya Yuri lebih baik. Sementara itu bagaimana dengan Shin She Kyung? Kalo artis satu ini memang termasuk luar biasa, aktingnya yang tanpa ekspresi justru menurut saya yang menjual. Ya ya ya, untuk akting pilem ini Good lah yaa..


Alur Cerita
Drama ini bukan drama dengan alur cerita mendetail tentang masa kecil para pemerannya. Meskipun terdapat beberapa cuplikan masa kecil antara Lee Ga Young dan Kang Young Gul, tapi cerita lengkap masih samar. Jadi jangan harapkan cerita detail yang mengungkap semua sisi dalam drama ini. Karena drama ini lebih menonjolkan tentang konflik bisnis yang penuh dengan dunia hitam, banyak yang tdk suka dengan kejamnya film ini, yaa but that's the reality. Banyak yang protes kenapa ini kenapa begitu? Lalu bagaimana dengan jawaban konflik ini? Banyak yang tidak terjawab dan terlupakan. Saya bilang terlupakan karena banyak yang protes kenapa Ga Young tdk mengingat kalung ibunya sndr, yang ingat malah si Young Gul.  Tapi bukankah dalam hidup banyak hal yang juga tidak terjawab dan terlupakan. Dalam satu kejadian yang terjadi pada dua orang, bisa jadi yang mengingat hanya satu sisi, sementara yang lain melupakannya. Bukankah ini sangat realistis, kecuali kalau kita mengharapkan drama fairy tale yang cengeng dan bikin termehek-mehek macam I Miss You.


Saya termasuk pendukung pasangan Ga Young dan Jang Hyuk, kenapa kenapa? Ya karena mereka berdua cocok dan menurut saya lebih berpotensi untuk bahagia. Ga Young itu suka Young Gul dari awal, tapi temperamen Young Gul dan cara dia memperlakukan Ga Young saya tidak suka. Dia tidak bisa menunjukkan dengan jelas bahwa dia menyukai Ga Young, bahkan sampai akhir dia selalu menyakiti Ga Young dengan selalu bersama Choi Anna. Memang sih dia baik, tapi tidak pernah ditunjukkan ke Ga Young, yang ada malah marah-marah mulu dan sampai episode 15 saya masih melihat Young Gul yang menegaskan kepada Ga Young bahwa mereka adalah bos dan karyawan. Oke saya tau, cinta tidak harus dikatakan lewat kata-kata, tapi paling tidak tunjukkan lewat sikap. Kalo ini Kang Maru jagonya *tuh kan Nice Guy lagi. Episode 16 ada adegan romantis antara mereka berdua, tapi tetap saja ujung-ujungnya berakhir dengan pertengkaran yang menyesakkan. Sebenarnya saya juga nyesek melihat mereka berdua, ada keinginan kesalahpahaman dari mereka berakhir. Tapi mau bagaimana lagi untuk apa saling menyukai tapi malah menyakiti satu sama lain.

Sementara Jae Hyuk, meskipun dia agak labil dan terkesan hanya Chae Bol kaya dia bisa memperlakukan Ga Young dengan baik. Dari awal caranya memperlakukan Ga Young lebih gentle dan jujur. Saya suka beberapa adegan mereka dan tingkah si Jae Hyuk kalo sm Ga Young. Karena pada dasarnya Jae Hyuk dan Young Gul itu "tokoh jahat" jadi ya yang paling penting adalah siapa yang bisa memperlakukan Ga Young dengan baik. Jae Hyuk selalu menunjukkan sikap "aku membutuhkanmu" pada Lee Ga Young, dan yang jelas ia tidak pernah mengusir Ga Young pergi sebagaimana yang sering dilakukan Young Gul. Yang menarik ada percakapan antara Anna sm Young Gul di mobil, disitu Anna bilang "Meskipun begitu, apapun yang dikatakan Jae Hyuk menunjukkan ketulusan. Ketika iya meminta maaf, maka ia benar-benar minta maaf. Ketika mengatakan cinta, maka dia memang benar-benar cinta". Dan kalau ga salah di episode 18, si Jae Hyuk datang ke pesta pembukaan kantornya Young Gul dan Anna sambil mabuk, di depan banyak orang dia bilang dia mencintai Lee Ga Young. Itu adalah hal yang sangat memalukan untuk ukuran Chae Bol macam Jae Hyuk, but he did it. That's my Jae Hyuk oppa after all. Hii :D


Jadi ingat Memories of Bali, banyak fans drama tersebut yang terpecah karena memilih dua tokoh yang berbeda antara Kang In Wook dan Jung Jae Min, dan saya milih Jung Jae Min yang notabenya lebih sadis. Kedua drama ini juga berending kontroversial dan sama-sama meninggalkan banyak protes.

Ending
Sebenarnya drama ini sudah punya banyak pesan kok. Penulis skenario, Kim Ki Hoo sebenarnya hampir sama kyk Lee Kyung Hee. Ya intinya jangan terlalu ambisius dan balas dendam. Kalo Nice Guy saya memang berharap Happy Ending karena Ma Ru dan Eun Gi sudah terlalu menderita di hampir semua episode. Lagipula mereka berdua sama-sama tidak serakah dan cuma ingin kebahagiaan yang sederhana. Mereka tau diri untuk tidak memiliki semuanya. Dan kebahagian sederhana yang mereka harapkan terkabul. Ma Ru itu pinternya minta ampun, dia bisa jadi apapun termasuk pengusaha sukses, tapi dia memilih jadi dokter untuk hidup bersama Eun Gi dan mencintainya seperti orang pada umumnya.
Sementara itu di Fashion King, sampai akhirpun Young Gul tetap serakah. Padahal sebenarnya yang diinginkan Ga Young kebahagiaan yang sederhana, tp Young Gul tetap berambisi besar termasuk menghancurkan dan mengambil alih YGM dan menghancurkan Jae Hyuk. Tanpa sadar dia melawan kekuatan yang sangat kuat, sampai akhirnya dia .... (Isi sndiri ya, takut spoiler). Well, itu pendapat saya. Cuma pendapat yaa, mungkin bakal banyak yang melawannya. See you next...

Tag : Korean Drama

Review Drama Jepang Love Generation

8 comments
Akhirnya DVD yang saya pesan datang, dan pilihan pertama saya untuk artikel "reply 2000" adalah dorama Jepang, Love Generation. Drama Jepang ini memang sangat nge hits waktu itu, meskipun orang akan lebih banyak mengingat Long Vacation. Bagi saya melihat Love Generation lebih menarik dibandingkan Long Vacation yang justru bosan ketika melihat episode pertama. Mungkin karena saya dari awal memang lebih suka melihat Takuya Kimura dan Matsu Takako, bahkan sejak mereka bermain di Long Vacation, meskipun akhirnya tidak bersama. Drama ini mengudara di Jepang sejak tahun 1997, tetapi saya melihatnya untuk pertama kali pada tahun 2000an, yaitu ketika saya masih SMP.

Cast :
Katagiri Teppei - Takuya Kimura
Uesugi Riko - Takako Matsu
Takagi Erika - Norika Fujiwara
Katagiri Soichiro - Masaaki Uchino
Mizuhara Sanae - Junna Risa
Yoshimoto - Kawabata Ryuuta

Review :

Love Generation menceritakan tentang perjalanan cinta Teppei (Takuya Kimura) dan Riko (Matsu Takako). Sebenarnya ide cerita tidak jauh dari Long Vacation, yaitu gadis periang dengan seorang laki-laki cool. Teppei digambarkan sebagai tokoh utama yang masih dibayangi cinta pertamanya (Sanae yang diperankan oleh Junna Risa), Sanae selanjutnya menjadi tunangan dari kakak Teppei.

Love generation memiliki 11 episode sehingga alur cerita berjalan dengan cepat. Takuya dan Matsu Takako berhasil menyajikan chemistry yang luar biasa, dengan ide cerita yang sederhana drama ini berhasil menyampaikan banyak pesan. Ketika melihat drama ini, saya pun jadi ingat mengapa saya selalu condong ke drama Jepang dibandingkan Korea ataupun Mandarin. Saya suka dengan ekspresi Teppei yang "sangat laki-laki" dan keceriaan Riko yang menghiasi drama ini.


Selain hubungan antara Teppei dan Riko, drama ini menyajikan banyak sisi lain yaitu hubungan dengan keluarga dan teman/sahabat. Mata saya berair ketika sampai pada adegan ayah Riko mengantarnya ke stasiun ketika akan pergi ke Tokyo, jadi ingat hubungan saya dengan Bapak. Itulah drama Jepang, ia bisa mengangkat sesuatu yang biasa dan terjadi pada kehidupan sehari-hari menjadi sebuah drama. Jangan bayangkan drama ini penuh intrik ala drama Korea, drama ini justru sangat sederhana dan itulah mengapa ia spesial. Peran sahabat juga sangat penting dalam drama ini, Norika Fujiwara berhasil memerankan sahabat Riko dengan baik dan memegang peranan penting dalam hubungan Teppei dan Riko yang seringkali terjadi missed komunikasi.

Dalam drama ini ada tagline iklan yang sering muncul di beberapa adegan, tagline itu berbunyi "true love  never run smooth" dan model yang ada di iklan itu memegang sebuah apel kaca yang juga sering muncul di beberapa adegan. Tentu saja iklan dan apel itu punya tujuan dan cinta sejati memang butuh perjuangan.


Bagi saya, setiap kalimat di drama ini adalah quote, jadi jika saya harus menulis quote yang ada di sini, maka artikel ini akan penuh dengan quote. Yang jelas, selain tentang cinta drama ini tak lupa menyisipkan pesan tentang impian dari para pemerannya. Itulah sebabnya mengapa saya selalu lbh suka drama Jepang. Mungkin ia tak akan membuatmu terbuai dan termehek-mehek, tapi dari sesuatu yang sederhana dan sering terjadi di sekitarmu kamu bisa memetik banyak pesan.

Untuk menjaga mood saya yang sangat baik setelah menonton drama ini, saya putuskan untuk tidak marathon menonton film selanjutnya dan memilih untuk menghabiskan stok buku. Lucu juga, yang membuat saya move on dari drama Korea Nice Guy malah drama lama Love Generation. Entah ini bisa disebut move on atau move back. Padalah saya sudah berusaha melihat banyak drama, termasuk drama Song He kyo dan Jo In Sung tapi Love Generation yang memenangkannya. Bagi kalian penggemar Love Generation ada baiknya melihat drama ini kembali, karena ceritanya tidak pernah basi dimakan jaman (yaelah bahasa saya). Saya sendiri berencana membagikan filenya ke teman-teman terdekat yang mungkin juga merindukan drama ini.


Review Drama Korea The Princess Man

0 comments
Cast :
Moon Chae Won sebagai Lee Se Ryung
Park Shi Ho sebagai Kim Seung Ho
Kim Yeng Cheol sebagai Pangeran Suyang (ayah Se Ryung)
Lee Soon Jae sebagai Kim Jong Seo (ayah Seung Ho)
Hang Song Hyun sebagai Putri Kyung Hee
Jung Dong Hwan sebagai Raja Mun Jong

Alur Cerita :
Pangeran Su Yang adalah Pangeran yang punya ambisi untuk menjadi raja, untuk melancarkan misinya menjadi raja ia melakukan perjodohan antara putrinya  (Lee Se Ryung) dengan putra Kim Jong Seo (Kim Seung Ho). Kim Jong Seo adalah orang kepercayaan Raja yang saat itu berkuasa yaitu Raja Mun Jong. Raja Mun Jong adalah saudara laki-laki pangeran Su Yang, Raja Munjong memiliki dua orang anak yaitu Putra Mahkota pangeran Danjong dan Putri  Kyung Hee. Putri Kyung Hee bersahabat dengan dengan Lee Se Ryung, keduanya tidak menyadari perseteruan diantara ayah mereka untuk memperebutkan tahta kerajaan.

Kim Seung Ho yang diperankan Park Si Hoo
Ketika mengetahui dirinya akan dijodohkan dengan Kim Seung Ho, Se Ryung mulai mencari tau tentang Kim Seung Ho. Saat itu Seung Ho menjadi guru dari Putri Kyung Hee, mengetahui hal tersebut Se Ryung kemudian memohon kepada Putri Kyung Hee untuk menyamar dan bertemu dengan Seung Ho. Pertemuan keduanya menumbuhkan benih benih cinta. Sementara itu, Kim Jong Seo yang sangat setia kepada Raja Mun Jong menolak perjodohan Kim Seung Ho dengan Lee Se Ryung dan malah menerima perjodohan anaknya dengan Putri Kyung Hee. Hal ini memancing kemarahan Pangeran Suyang yang kemudian melakukan pemberontakan dan membunuh Kim Jong Seo.
Dengan segala cara, pangeran Su Yang akhirnya menjadi Raja. Kim Seung Ho yang selamat dari pembantaian diasingkan ke sebuah pulau dan berhasil melarikan diri, ia bersumpah akan membunuh pangeran Su Yang (Raja Sejo) yang merupakan ayah dari  orang yang ia cintai.

Komentar :


Akting dan Chemistry Park Shi Ho dan Moon Chae Won
Wah wah wah,,, saya akui ya Shi Ho dan Chae Won berhasil memerankan tokoh utama dengan baik, nggak salah mereka jadi best couple di tahun 2011. Saya sempat beralih dan berpikir kedua pasangan ini lebih baik dari pasangan EunMa di Nice Guy, untungnya Cuma “sempat” kemudian saya nyadar, buat saya Song Joong Ki dan Moon Chae Won tetap yang terbaik. Tapi emang beda dan susah dibandingkan, keduanya memiliki ciri khas tersendiri lagipula temanya udah beda.
Terlepas dari Park Shi Ho yang baru saja terjerat kasus, saya mengakui aktingnya memang keren. Dia salah satu aktor dengan karakter kuat. Kalo Chae Won? Ga usah ditanya lagi, saya sudah sering komen tentang kualitas akting aktris satu ini.
Moon Chae Won sebagai Lee Se Ryung
Antara Sejarah dan Drama
Kalo bahas ini agak berat, karena drama ini sebenarnya mengangkat sejarah Korea. Meskipun pembuat drama menyatakan bahwa ini hanya fiksi belaka, tapi ada beberapa yang memang sama dengan sejarah. Raja Sejo (Pangeran Su Yang) adalah salah satu tokoh dalam sejarah Korea, seperti yang ada di drama ini, Raja Sejo naik tahta setelah menyingkirkan Raja Danjong yang saat itu masih berusia 12 tahun. Raja Dan Jong sebelumnya menggantikan ayahnya yaitu Raja Mun Jong yang sakit-sakitan kemudian meninggal dunia.  Raja Sejo juga tercatat membunuh Kim Jong Seo, tokoh yang  juga diangkat dalam drama ini.
Pangeran Suyang atau Raja Sejo
Nah yang menarik bagi saya adalah meskipun Raja Se Jo diceritakan sangat kejam dan ambisius tapi sejarah mencatat dia sebagai Raja yang memiliki banyak prestasi. Ia membuktikan diri sebagai raja yang paling baik dalam menegakkan peraturan dan administrasi di dinasti Cosun. Yang jelas ia adalah raja yang berprestasi dalam sejarah Korea.

Drama ini mengangkat sejarah perseteruan antara Pangeran Su Yang (Raja Sejo)  dan Kim Jong Seo. Dalam drama ini yang tidak tercatat dalam sejarah adalah keberadaan Se Ryung dan Seung Ho, sedangkan dalam drama Se Ryung dihapus dalam sejarah karena perseteruan dengan ayahnya (ini cara penulis untuk bikin matching antara sejarah dan drama ini)

Se Ryung dan Seung Ho yang saling mencintai tetapi terhalang karena perseteruan antara ayah mereka, selanjutnya disebut  sebagai cerita Romeo dan Julietnya Korea.

Hubungan Ayah dan Anak
Soal ini saya sangat sensitif sekali, karena saya termasuk anak perempuan pecinta Bapak. Jadi saya agak nggak enak hati melihat Se Ryung yang selalu menentang ayahnya. Tapi oh tapi, Raja Sejo emang kejam banget, jadi sikapnya Se Ryung itu sangat wajar. Dia berani melawan dan menjadi anak yang terkesan durhaka bukan hanya karena ia mencintai Seung Ho, melainkan juga karena ia sangat mencintai ayahnya. Ia berkali-kali berdebat dengan sang Ayah namun tak pernah menemukan titik temu, sampai akhirnya ia benar-benar membangkang. Saya nangis tiap adegan mereka berdua, apalagi saat Se Ryung menyuruh Ayahnya untuk melepaskan semuanya, menjadi ayahnya yang dulu dan tinggal bersamanya di pinggir kota. Namun permohonan ini dianggap konyol dan ditolak mentah-mentah oleh Raja Se Jo. Tak dapat dipungkiri sepertinya saya suka drama ini karena kesamaan karakter tokoh Se Ryung dengan saya :p

Raja Se Jo sendiri sangat mencintai Se Ryung, karena menganggap Se Ryung paling mirip dengan dirinya. Si Saya lebih tersentuh dengan hubungan Ayah-Anak ini dibandingkan hubungan antara Se Ryung dan Seung Ho. Oh is it weird? Isn’t it?

Cukup sekian ulasan saya, banyak yang pasti terlewat dari ulasan ini. Maklum saya harus menyisakan waktu untuk mengerjakan pekerjaan lain termasuk mengerjakan pekerjaan saya di kantor.
Belum lagi capture gambar dan bikin resensi untuk buku dan drama yang lain. Masih banyak PR!!!

Tag : Korean Drama