Politik Itu Bukan Sepakbola, Bung!

0 comments

Tumbuh di antara dua laki-laki penggemar Sepak Bola membuat saya sedikit memahami rasa cinta penggemar sepak bola. Mungkin tidak semaniak saya terhadap K-Drama ataupun K-Pop, bahkan bisa dibilang saya cuma "pengamat" penggemar Sepak Bola. Saya sendiri lebih kuat melek ketika melihat K-Drama dibandingkan ketika harus begadang karena pertandingan bola. Mata saya biasanya kriyep kriyep sambil terus bertanya sama si Adek, berapa skornya?. Pertanyaan itu biasanya diakhiri dengan kalimat "Ngaliho ae mbak, turu kono lho" yang artinya pergi mbak, tidur sana. Saya pun menyingkir sambil menggigit dan memeluk guling kesayangan.

Piala Dunia kali ini agak berbeda karena datangnya bersamaan dengan pilpres di Negara ini. Seorang teman mengeluh di ujung telepon, gegap gempita Piala Dunia kurang terasa. Kami berdua menyimpulkan karena stasiun TVnya yang kurang menyajikan interface dengan baik, berbeda dengan stasiun TV terdahulu, sebut saja si R yang benar-benar total ketika menyiarkan piala dunia. Total disini karena si R mengemas Piala Dunia menjadi kesatuan tidak hanya menyajikan pertandingannya saja. Segala pernak-pernik, nonton bareng, bahkan iklannya pun lebih banyak. Kalau teman-teman amati si R bahkan mengemas acara lain menjadi bagian dari piala dunia, begitulah Piala Dunia yang dulu. Kalau yang sekarang Piala Dunia diselingi dengan Debat Pilpres, bukan cuma debat antar capresnya tapi juga pendukungnya bikin pusing dan mual saja.

Sebagai orang Indonesia yang selalu bilang “untung saja” , kita wajib juga mengatakan “untung saja” masih disiarkan TV lokal coba kalau TV kabel, bisa berabe deh. Meskipun kecewa, sebagai warga Negara yang baik saya harus mengapresiasi stasiun televisi yang memberikan porsi lebih untuk pesta demokrasi kali ini, mungkin itu artinya kita lebih peduli kepada masa depan bangsa ini dibandingkan dengan Piala Dunia yang kita ikut saja tidak. 

Tentang Pilpres dan Sepak Bola

Keduanya sama-sama punya penggemar, keduanya sama-sama dibagi menjadi beberapa kubu, keduanya sama-sama ada pihak yang kalah dan yang menang. Lalu apa bedanya?

Jawabannya, ada satu hal yang berbeda dan itu mutlak adanya.

Masih ingat pemilu 2004 dan 2009? Masih ingatkah kita betapa mayoritas masyarakat kita memuja-muja sang Jendral dengan segala daya upaya? Media pun juga ikut-ikutan lebay, atau malah media yang bikin masyarakat kita lebay waktu itu, entahlah yang jelas euphoria waktu itu juga luar biasa. Lalu apa yang terjadi sekarang? Apa yang kita lakukan pada si Jendral dengan kantung matanya yang terus menghitam?

Menghujatnya. Itulah yang kita lakukan sekarang.

Tidak ada musuh dan teman yang abadi dalam politik, begitu katanya

Jujur saja saya sedih melihat kenyataan ini, bagaimanapun juga beliau adalah presiden kita. Saya mengatakan ini bukan karena saya pendukungnya. Waktu pemilu 2009, sebenarnya saya mau coblos capres yang lain tapi krn permintaan sang Ibu yang waktu itu nggondok akhirnya saya pilih si Jendral. Bagi saya waktu itu sama saja, toh si Jendral juga bakalan menang meskipun nggak saya pilih karena hasil pemilu saat itu tidak “segelap” pemilu kali ini. Coblosan saat itu murni karena ingin menyenangkan hati Ibu, maklum Ibu saya fan fanatic si Jendral mungkin kadar nge-fansnya sama kayak saya nge fans Joong Ki, hihihi. Sementara si Bapak tetap nyoblos capres lain yang sebenarnya sama kyk pilihan saya. Dan Alhamdulillah Ibu tetap setia mengagumi si Jendral di tengah hiruk pikuk hujatan masyarakat dan media saat ini.

Lalu bagaimana dengan sepak bola?

Fanatisme pecinta bola jauh berbeda dengan fanatisme politik, jika di dunia politik tidak ada musuh dan kawan yang abadi maka sepak bola sebaliknya. Penggemar bola biasanya konsisten menjadi penggemar klub tertentu. Menang atau kalah mereka tetap menjadi penggemar klub tersebut. Konsistensi ini yang membedakan antara politik dan sepak bola.

Menyambut pesta demokrasi kita kali ini (pilpres) dan piala dunia, ada satu hal lagi yang berbeda dari keduanya. Kemenangan tim favorit kita di piala dunia adalah akhir dari perjuangan karena setelah juara piala dunia tahun 2014, tugas mereka selesai sampai disana. Mereka juara, titik. Tapi kemenangan salah satu calon presiden bukanlah akhir dari segalanya, kemenangan ini justru titik awal perjalanan dan perjuangan bangsa ini. Dari titik inilah semuanya dimulai, bahkan kita punya tugas yang lebih berat dari sekedar membela mati-matian capres sebelum hari pencoblosan sampai mencoblos gambarnya di bilik suara.

Tugas yang sebenarnya baru dimulai setelah itu, siapapun yang terpilih kita punya tugas yang sama yaitu mengawasi calon terpilih nanti. Sebenarnya tugas terpenting adalah menjadi warga negara yang bukan hanya sekedar baik tapi juga kompeten, tapi saya yakin teman-teman sudah memulainya dari sekarang bukan? Dari perdebatan pilpres ini saja saya liat banyak dari masyarakat Indonesia yang punya wawasan luas.

Kadang agak terganggu dengan pertengkaran soal pilpres, tapi disisi lain saya juga senang. Kalau mengambil sisi positifnya, bukankah tanpa kita sadari pengetahuan kita bertambah seiring perhelatan pilpres ini? Banyak yang mendadak paham soal HAM, Laut China Selatan, Tank, sejarah Indonesia dan pengetahuan yang lain. Bukankah begitu :p

Yang jelas apapun pilihan kita dan siapapun presiden terpilih nanti, jangan biarkan ia berjuang sendirian.

Tag : Daily

Review Drama Korea Fashion King

4 comments
Setelah kecewa dengan beberapa drama yang saya liat akhir-akhir ini yang diakhiri dengan Lie To Me yang geje abis, akhirnya nemu satu drama yang agak nendang.


Banyak yg bilang endingnya jelek, ngga ada pesan kyk drama Korea lainnya dan alasan yang lain. Tapi saya bisa katakan, drama ini bagus! Hahhaa. Kenapa? Kenapa? Saya harus punya alasan kuat, krn mungkin yang bersebrangan dengan saya bakal lebih banyak. Yuk kita bahas satu persatu...

Tema
Kebanyakan drama korea lebih menonjolkan perseteruan dua wanita, di Fashion King mungkin ada Choi Anna dan Lee Ga Young tapi point utamanya bukan mereka berdua. Point utama di drama ini adalah ego dan harga diri dua lelaki yaitu Jung Jae Hyuk dan Kang Young Gul. Lamaa rasanya saya nggak liat drama dengan dua tokoh utama lelaki yang kuat, drama terakhir dengan dua tokoh utama lelaki yang kuat yang saya ingat adalah Memories of Bali selebihnya saya sudah lupa. Dan ternyata usut punya usut, penulisnya Fashion King sama kyk Memories of Bali. Lagi-lagi, saya tanpa sengaja jatuh cinta pada drama dengan penulis drama yang sama. Setelah Lee Kyung Hee dengan Nice Guy dan drama lain, kali ini giliran Kim Ki Hoo dengan Fashion King


Akting
Hellooo, akting? Jangan diragukan lagi kalo masalah satu ini. Yoh Ah In sudah terbukti berkali2 sebagai aktor hebat dengan akting yang dae bak. Dan disini dia bisa memerankan tokoh Kang Young Gul yang temperamental dengan baik, gaya rambutnya pun disesuaikan. Kalo Lee Jee Hoon, saya liat pertama kali dia di movie Architecture 101 dan langsung jatuh cinta. Waktu itu dia memerankan masa mudanya Uhm Tae Wong dengan baik dan terbukti pilemnya sukses di pasaran. Sementara itu disini dia berperan jadi chaebol cakep, jujur saja saya lebih suka si Jae Hyuk dari pada Youn Gul jadi yaa pasti aktinya bagus!haha. Yuri dan Shin She Kyung juga berakting cukup bagus, untuk seorang Yuri yang notabenya anggota SNSD aktingnya disini sangat baik. Drama ini tayang hampir bersamaan dengan Love Rain yang dibintangi Yoona SNSD dan banyak yang membandingkan akting keduanya dan tentu saja menurut saya Yuri lebih baik. Sementara itu bagaimana dengan Shin She Kyung? Kalo artis satu ini memang termasuk luar biasa, aktingnya yang tanpa ekspresi justru menurut saya yang menjual. Ya ya ya, untuk akting pilem ini Good lah yaa..


Alur Cerita
Drama ini bukan drama dengan alur cerita mendetail tentang masa kecil para pemerannya. Meskipun terdapat beberapa cuplikan masa kecil antara Lee Ga Young dan Kang Young Gul, tapi cerita lengkap masih samar. Jadi jangan harapkan cerita detail yang mengungkap semua sisi dalam drama ini. Karena drama ini lebih menonjolkan tentang konflik bisnis yang penuh dengan dunia hitam, banyak yang tdk suka dengan kejamnya film ini, yaa but that's the reality. Banyak yang protes kenapa ini kenapa begitu? Lalu bagaimana dengan jawaban konflik ini? Banyak yang tidak terjawab dan terlupakan. Saya bilang terlupakan karena banyak yang protes kenapa Ga Young tdk mengingat kalung ibunya sndr, yang ingat malah si Young Gul.  Tapi bukankah dalam hidup banyak hal yang juga tidak terjawab dan terlupakan. Dalam satu kejadian yang terjadi pada dua orang, bisa jadi yang mengingat hanya satu sisi, sementara yang lain melupakannya. Bukankah ini sangat realistis, kecuali kalau kita mengharapkan drama fairy tale yang cengeng dan bikin termehek-mehek macam I Miss You.


Saya termasuk pendukung pasangan Ga Young dan Jang Hyuk, kenapa kenapa? Ya karena mereka berdua cocok dan menurut saya lebih berpotensi untuk bahagia. Ga Young itu suka Young Gul dari awal, tapi temperamen Young Gul dan cara dia memperlakukan Ga Young saya tidak suka. Dia tidak bisa menunjukkan dengan jelas bahwa dia menyukai Ga Young, bahkan sampai akhir dia selalu menyakiti Ga Young dengan selalu bersama Choi Anna. Memang sih dia baik, tapi tidak pernah ditunjukkan ke Ga Young, yang ada malah marah-marah mulu dan sampai episode 15 saya masih melihat Young Gul yang menegaskan kepada Ga Young bahwa mereka adalah bos dan karyawan. Oke saya tau, cinta tidak harus dikatakan lewat kata-kata, tapi paling tidak tunjukkan lewat sikap. Kalo ini Kang Maru jagonya *tuh kan Nice Guy lagi. Episode 16 ada adegan romantis antara mereka berdua, tapi tetap saja ujung-ujungnya berakhir dengan pertengkaran yang menyesakkan. Sebenarnya saya juga nyesek melihat mereka berdua, ada keinginan kesalahpahaman dari mereka berakhir. Tapi mau bagaimana lagi untuk apa saling menyukai tapi malah menyakiti satu sama lain.

Sementara Jae Hyuk, meskipun dia agak labil dan terkesan hanya Chae Bol kaya dia bisa memperlakukan Ga Young dengan baik. Dari awal caranya memperlakukan Ga Young lebih gentle dan jujur. Saya suka beberapa adegan mereka dan tingkah si Jae Hyuk kalo sm Ga Young. Karena pada dasarnya Jae Hyuk dan Young Gul itu "tokoh jahat" jadi ya yang paling penting adalah siapa yang bisa memperlakukan Ga Young dengan baik. Jae Hyuk selalu menunjukkan sikap "aku membutuhkanmu" pada Lee Ga Young, dan yang jelas ia tidak pernah mengusir Ga Young pergi sebagaimana yang sering dilakukan Young Gul. Yang menarik ada percakapan antara Anna sm Young Gul di mobil, disitu Anna bilang "Meskipun begitu, apapun yang dikatakan Jae Hyuk menunjukkan ketulusan. Ketika iya meminta maaf, maka ia benar-benar minta maaf. Ketika mengatakan cinta, maka dia memang benar-benar cinta". Dan kalau ga salah di episode 18, si Jae Hyuk datang ke pesta pembukaan kantornya Young Gul dan Anna sambil mabuk, di depan banyak orang dia bilang dia mencintai Lee Ga Young. Itu adalah hal yang sangat memalukan untuk ukuran Chae Bol macam Jae Hyuk, but he did it. That's my Jae Hyuk oppa after all. Hii :D


Jadi ingat Memories of Bali, banyak fans drama tersebut yang terpecah karena memilih dua tokoh yang berbeda antara Kang In Wook dan Jung Jae Min, dan saya milih Jung Jae Min yang notabenya lebih sadis. Kedua drama ini juga berending kontroversial dan sama-sama meninggalkan banyak protes.

Ending
Sebenarnya drama ini sudah punya banyak pesan kok. Penulis skenario, Kim Ki Hoo sebenarnya hampir sama kyk Lee Kyung Hee. Ya intinya jangan terlalu ambisius dan balas dendam. Kalo Nice Guy saya memang berharap Happy Ending karena Ma Ru dan Eun Gi sudah terlalu menderita di hampir semua episode. Lagipula mereka berdua sama-sama tidak serakah dan cuma ingin kebahagiaan yang sederhana. Mereka tau diri untuk tidak memiliki semuanya. Dan kebahagian sederhana yang mereka harapkan terkabul. Ma Ru itu pinternya minta ampun, dia bisa jadi apapun termasuk pengusaha sukses, tapi dia memilih jadi dokter untuk hidup bersama Eun Gi dan mencintainya seperti orang pada umumnya.
Sementara itu di Fashion King, sampai akhirpun Young Gul tetap serakah. Padahal sebenarnya yang diinginkan Ga Young kebahagiaan yang sederhana, tp Young Gul tetap berambisi besar termasuk menghancurkan dan mengambil alih YGM dan menghancurkan Jae Hyuk. Tanpa sadar dia melawan kekuatan yang sangat kuat, sampai akhirnya dia .... (Isi sndiri ya, takut spoiler). Well, itu pendapat saya. Cuma pendapat yaa, mungkin bakal banyak yang melawannya. See you next...

Tag : Korean Drama

Review Drama Jepang Love Generation

8 comments
Akhirnya DVD yang saya pesan datang, dan pilihan pertama saya untuk artikel "reply 2000" adalah dorama Jepang, Love Generation. Drama Jepang ini memang sangat nge hits waktu itu, meskipun orang akan lebih banyak mengingat Long Vacation. Bagi saya melihat Love Generation lebih menarik dibandingkan Long Vacation yang justru bosan ketika melihat episode pertama. Mungkin karena saya dari awal memang lebih suka melihat Takuya Kimura dan Matsu Takako, bahkan sejak mereka bermain di Long Vacation, meskipun akhirnya tidak bersama. Drama ini mengudara di Jepang sejak tahun 1997, tetapi saya melihatnya untuk pertama kali pada tahun 2000an, yaitu ketika saya masih SMP.

Cast :
Katagiri Teppei - Takuya Kimura
Uesugi Riko - Takako Matsu
Takagi Erika - Norika Fujiwara
Katagiri Soichiro - Masaaki Uchino
Mizuhara Sanae - Junna Risa
Yoshimoto - Kawabata Ryuuta

Review :

Love Generation menceritakan tentang perjalanan cinta Teppei (Takuya Kimura) dan Riko (Matsu Takako). Sebenarnya ide cerita tidak jauh dari Long Vacation, yaitu gadis periang dengan seorang laki-laki cool. Teppei digambarkan sebagai tokoh utama yang masih dibayangi cinta pertamanya (Sanae yang diperankan oleh Junna Risa), Sanae selanjutnya menjadi tunangan dari kakak Teppei.

Love generation memiliki 11 episode sehingga alur cerita berjalan dengan cepat. Takuya dan Matsu Takako berhasil menyajikan chemistry yang luar biasa, dengan ide cerita yang sederhana drama ini berhasil menyampaikan banyak pesan. Ketika melihat drama ini, saya pun jadi ingat mengapa saya selalu condong ke drama Jepang dibandingkan Korea ataupun Mandarin. Saya suka dengan ekspresi Teppei yang "sangat laki-laki" dan keceriaan Riko yang menghiasi drama ini.


Selain hubungan antara Teppei dan Riko, drama ini menyajikan banyak sisi lain yaitu hubungan dengan keluarga dan teman/sahabat. Mata saya berair ketika sampai pada adegan ayah Riko mengantarnya ke stasiun ketika akan pergi ke Tokyo, jadi ingat hubungan saya dengan Bapak. Itulah drama Jepang, ia bisa mengangkat sesuatu yang biasa dan terjadi pada kehidupan sehari-hari menjadi sebuah drama. Jangan bayangkan drama ini penuh intrik ala drama Korea, drama ini justru sangat sederhana dan itulah mengapa ia spesial. Peran sahabat juga sangat penting dalam drama ini, Norika Fujiwara berhasil memerankan sahabat Riko dengan baik dan memegang peranan penting dalam hubungan Teppei dan Riko yang seringkali terjadi missed komunikasi.

Dalam drama ini ada tagline iklan yang sering muncul di beberapa adegan, tagline itu berbunyi "true love  never run smooth" dan model yang ada di iklan itu memegang sebuah apel kaca yang juga sering muncul di beberapa adegan. Tentu saja iklan dan apel itu punya tujuan dan cinta sejati memang butuh perjuangan.


Bagi saya, setiap kalimat di drama ini adalah quote, jadi jika saya harus menulis quote yang ada di sini, maka artikel ini akan penuh dengan quote. Yang jelas, selain tentang cinta drama ini tak lupa menyisipkan pesan tentang impian dari para pemerannya. Itulah sebabnya mengapa saya selalu lbh suka drama Jepang. Mungkin ia tak akan membuatmu terbuai dan termehek-mehek, tapi dari sesuatu yang sederhana dan sering terjadi di sekitarmu kamu bisa memetik banyak pesan.

Untuk menjaga mood saya yang sangat baik setelah menonton drama ini, saya putuskan untuk tidak marathon menonton film selanjutnya dan memilih untuk menghabiskan stok buku. Lucu juga, yang membuat saya move on dari drama Korea Nice Guy malah drama lama Love Generation. Entah ini bisa disebut move on atau move back. Padalah saya sudah berusaha melihat banyak drama, termasuk drama Song He kyo dan Jo In Sung tapi Love Generation yang memenangkannya. Bagi kalian penggemar Love Generation ada baiknya melihat drama ini kembali, karena ceritanya tidak pernah basi dimakan jaman (yaelah bahasa saya). Saya sendiri berencana membagikan filenya ke teman-teman terdekat yang mungkin juga merindukan drama ini.


Review Drama Korea The Princess Man

0 comments
Cast :
Moon Chae Won sebagai Lee Se Ryung
Park Shi Ho sebagai Kim Seung Ho
Kim Yeng Cheol sebagai Pangeran Suyang (ayah Se Ryung)
Lee Soon Jae sebagai Kim Jong Seo (ayah Seung Ho)
Hang Song Hyun sebagai Putri Kyung Hee
Jung Dong Hwan sebagai Raja Mun Jong

Alur Cerita :
Pangeran Su Yang adalah Pangeran yang punya ambisi untuk menjadi raja, untuk melancarkan misinya menjadi raja ia melakukan perjodohan antara putrinya  (Lee Se Ryung) dengan putra Kim Jong Seo (Kim Seung Ho). Kim Jong Seo adalah orang kepercayaan Raja yang saat itu berkuasa yaitu Raja Mun Jong. Raja Mun Jong adalah saudara laki-laki pangeran Su Yang, Raja Munjong memiliki dua orang anak yaitu Putra Mahkota pangeran Danjong dan Putri  Kyung Hee. Putri Kyung Hee bersahabat dengan dengan Lee Se Ryung, keduanya tidak menyadari perseteruan diantara ayah mereka untuk memperebutkan tahta kerajaan.

Kim Seung Ho yang diperankan Park Si Hoo
Ketika mengetahui dirinya akan dijodohkan dengan Kim Seung Ho, Se Ryung mulai mencari tau tentang Kim Seung Ho. Saat itu Seung Ho menjadi guru dari Putri Kyung Hee, mengetahui hal tersebut Se Ryung kemudian memohon kepada Putri Kyung Hee untuk menyamar dan bertemu dengan Seung Ho. Pertemuan keduanya menumbuhkan benih benih cinta. Sementara itu, Kim Jong Seo yang sangat setia kepada Raja Mun Jong menolak perjodohan Kim Seung Ho dengan Lee Se Ryung dan malah menerima perjodohan anaknya dengan Putri Kyung Hee. Hal ini memancing kemarahan Pangeran Suyang yang kemudian melakukan pemberontakan dan membunuh Kim Jong Seo.
Dengan segala cara, pangeran Su Yang akhirnya menjadi Raja. Kim Seung Ho yang selamat dari pembantaian diasingkan ke sebuah pulau dan berhasil melarikan diri, ia bersumpah akan membunuh pangeran Su Yang (Raja Sejo) yang merupakan ayah dari  orang yang ia cintai.

Komentar :


Akting dan Chemistry Park Shi Ho dan Moon Chae Won
Wah wah wah,,, saya akui ya Shi Ho dan Chae Won berhasil memerankan tokoh utama dengan baik, nggak salah mereka jadi best couple di tahun 2011. Saya sempat beralih dan berpikir kedua pasangan ini lebih baik dari pasangan EunMa di Nice Guy, untungnya Cuma “sempat” kemudian saya nyadar, buat saya Song Joong Ki dan Moon Chae Won tetap yang terbaik. Tapi emang beda dan susah dibandingkan, keduanya memiliki ciri khas tersendiri lagipula temanya udah beda.
Terlepas dari Park Shi Ho yang baru saja terjerat kasus, saya mengakui aktingnya memang keren. Dia salah satu aktor dengan karakter kuat. Kalo Chae Won? Ga usah ditanya lagi, saya sudah sering komen tentang kualitas akting aktris satu ini.
Moon Chae Won sebagai Lee Se Ryung
Antara Sejarah dan Drama
Kalo bahas ini agak berat, karena drama ini sebenarnya mengangkat sejarah Korea. Meskipun pembuat drama menyatakan bahwa ini hanya fiksi belaka, tapi ada beberapa yang memang sama dengan sejarah. Raja Sejo (Pangeran Su Yang) adalah salah satu tokoh dalam sejarah Korea, seperti yang ada di drama ini, Raja Sejo naik tahta setelah menyingkirkan Raja Danjong yang saat itu masih berusia 12 tahun. Raja Dan Jong sebelumnya menggantikan ayahnya yaitu Raja Mun Jong yang sakit-sakitan kemudian meninggal dunia.  Raja Sejo juga tercatat membunuh Kim Jong Seo, tokoh yang  juga diangkat dalam drama ini.
Pangeran Suyang atau Raja Sejo
Nah yang menarik bagi saya adalah meskipun Raja Se Jo diceritakan sangat kejam dan ambisius tapi sejarah mencatat dia sebagai Raja yang memiliki banyak prestasi. Ia membuktikan diri sebagai raja yang paling baik dalam menegakkan peraturan dan administrasi di dinasti Cosun. Yang jelas ia adalah raja yang berprestasi dalam sejarah Korea.

Drama ini mengangkat sejarah perseteruan antara Pangeran Su Yang (Raja Sejo)  dan Kim Jong Seo. Dalam drama ini yang tidak tercatat dalam sejarah adalah keberadaan Se Ryung dan Seung Ho, sedangkan dalam drama Se Ryung dihapus dalam sejarah karena perseteruan dengan ayahnya (ini cara penulis untuk bikin matching antara sejarah dan drama ini)

Se Ryung dan Seung Ho yang saling mencintai tetapi terhalang karena perseteruan antara ayah mereka, selanjutnya disebut  sebagai cerita Romeo dan Julietnya Korea.

Hubungan Ayah dan Anak
Soal ini saya sangat sensitif sekali, karena saya termasuk anak perempuan pecinta Bapak. Jadi saya agak nggak enak hati melihat Se Ryung yang selalu menentang ayahnya. Tapi oh tapi, Raja Sejo emang kejam banget, jadi sikapnya Se Ryung itu sangat wajar. Dia berani melawan dan menjadi anak yang terkesan durhaka bukan hanya karena ia mencintai Seung Ho, melainkan juga karena ia sangat mencintai ayahnya. Ia berkali-kali berdebat dengan sang Ayah namun tak pernah menemukan titik temu, sampai akhirnya ia benar-benar membangkang. Saya nangis tiap adegan mereka berdua, apalagi saat Se Ryung menyuruh Ayahnya untuk melepaskan semuanya, menjadi ayahnya yang dulu dan tinggal bersamanya di pinggir kota. Namun permohonan ini dianggap konyol dan ditolak mentah-mentah oleh Raja Se Jo. Tak dapat dipungkiri sepertinya saya suka drama ini karena kesamaan karakter tokoh Se Ryung dengan saya :p

Raja Se Jo sendiri sangat mencintai Se Ryung, karena menganggap Se Ryung paling mirip dengan dirinya. Si Saya lebih tersentuh dengan hubungan Ayah-Anak ini dibandingkan hubungan antara Se Ryung dan Seung Ho. Oh is it weird? Isn’t it?

Cukup sekian ulasan saya, banyak yang pasti terlewat dari ulasan ini. Maklum saya harus menyisakan waktu untuk mengerjakan pekerjaan lain termasuk mengerjakan pekerjaan saya di kantor.
Belum lagi capture gambar dan bikin resensi untuk buku dan drama yang lain. Masih banyak PR!!!

Tag : Korean Drama


Kuliner Bogor – Pizza Bakar Kedai Kita

0 comments


Setelah seharian jalan-jalan di Kebun Raya Bogor, kami putuskan untuk melakukan kuliner di Kota Hujan. Tidak seperti pengalaman pertama saya ke Bogor sebelumnya yang berakhir makan di Bogor Town Square, kali ini saya putuskan untuk mencoba ke tampat lain. Kami menuju bagian informasi Kebun Raya Bogor untuk menanyakan tempat makan favorit dan terkenal di kota Bogor.  Setelah memperoleh informasi dan penjelasan dari petugas disana, kami pun berangkat. 

Dari Kebun Raya Bogor, kami naik angkot 08A menuju Hotel Pangrango. Tempat makan yang kami tuju, Kedai Kita terletak di dekat Hotel Pangrango. Tidak perlu khawatir kesulitan untuk mencarinya, karena dengan papan nama yang cukup  besar dan letaknya yang strategis kita mudah menemukannya. Dan tentunya jika naik kendaraan umum, jangan lupa untuk mengatakan kepada pengemudi bahwa kita berhenti di Hotel Pangrango.

Kami memesan menu yang hurufnya dicetak tebal, karena berdasarkan informasi pramusaji cetakan tebal tersebut diperuntukkan bagi menu favorit di Kedai Kita Bogor
Menu favorit di Kedai Kita, antara lain :
- Pizza Bakar/Calzone Beef Peperoni
- BBQ Smoke Beef
- Es Jeruk Kelapa Muda
- Steak Lidah Sapi
- Juice Strawberry
- dll


Berikut daftar harganya :



NB : Harga tersebut berlaku tgl 15 Maret 2014. Harga bisa berubah sewaktu-waktu.

Setelah perut sangat kenyang, kami pun pulang. Karena keberadaan taxi di Bogor cukup sulit, kami pun kembali naik angkot. Kali ini kami menuju stasiun menggunakan angkot 03 yang tempatnya agak jauh dari lokasi Kedai Kita. Oh ya, jangan lupa untuk menanyakan tujuan angkot yang akan kita naiki karena bisa jadi kita mengambil arah yang berlawanan dengan tempat tujuan kita.

Sekian, semoga bermanfaat
Bogor, 15 Maret 2014

Reply 2000

0 comments
Merasa pikiran saya penuh akhir-akhir ini karena nostalgia yang berkepanjangan, saya memutuskan untuk menulisnya. Daripada hanya memenuhi otak saja dan membuat dada sesak (halah lebay) ditulis mungkin lebih baik sekalian untuk mengabadikan kenangan kami (ceilehhh). Sindrom mau ditinggal nikah sahabat dekat sepertinya mempengaruhi psikologis saya untuk bernostalgia tentang apa yang telah kami lakukan selama ini.

Nia, sahabat saya yang akan menikah sepertinya juga melakukan hal yang sama. Dia juga sedang menulis tapi yang dia tulis sepertinya jauh lebih berat dari apa yang saya tulis karena dia sedang menulis novel, mungkin akan menjadi semacam semi- autobiografi, woww! Lalu saya? Ahh, nulis dua cerpen kemarin saja sudah membuat dada saya sesak dan pikiran tidak karuan, ternyata menulis bukan pekerjaan yang mudah. Apalagi kalau itu sebenarnya semacam semi-autobiografi pasti nulisnya sambil mukul-dada yang sesak, imajinasi saya selalu berlebihan ya!  Ya ya ya, sudah cukup ngocehnya back to the main topic.

"REPLY 2000"
Kali ini saya hanya ingin me-Reply tentang film, drama, lagu  dan apapun menyangkut idola yang menjadi kesukaan kami (terutama saya) pada tahun 2000an. Maklum kami saat SMP bukan cewek gaul yang jadi cheerleaders sekolah atau semacamnya, karena memang hal semacam itu tidak ada, tapi kalaupun ada kami mungkin tak akan memilihnya. Kami hanya siswa biasa, kerjaan kami belajar, membolos, contekan dan untuk saya yang tidak ketinggalan adalah berkhayal! Yang jelek-jelek tidak perlu ditiru karena kami menyesalinya.

Terinspirasi dari judul drama Korea yang berjudul Reply 1997, saya putuskan untuk memberikan judul Reply 2000 pada tulisan ini. Maklum konon katanya Reply 1997 ceritanya mirip dengan kami jaman dulu, yaitu siswa biasa punya sahabat kemudian menjadi penggemar dari para idolanya, tidak jauh berbeda dengan kami. Yap, ternyata dibelahan dunia lain ternyata ada orang yang kurang lebih merasakan masa remaja yang sama. Yang pertama saya akan menyebutkan list-list dari favorit saya, selanjutnya kalau ada kesempatan mungkin saya akan membuat link review per list tersebut, itupun kalau saya sempat jadi sementara saya akan mencoba bikin ulasan singkatnya disini.
Check This Out!

Movie (Film Lepas) Korea


1. Ditto
2. My Tutor Friend
3. Lover Concerto
4. The Classic
5. Taegukki
6. Wanee And Junah
7. Ill Mare
8. Windstruck
9. My Sassy Girl

Drama Seri Korea

1. Sunflower
2. Endless Love
3. Summer Scent
4. Winter Sonata
5. Beautiful Days
6. Glass Shoes
7. Tough Guys Love
8. All About Eve
9. Hotelier
10. Friends (Korea Jepang)
11. Tomato

Movie (Film Lepas) Jepang

1. Space Traveller
Satu film saja yang saya ingat di tahun 2000an, karena Cuma satu makanya sangat membekas. Beberapa julukan untuk teman kami diambil dari nama tokoh film ini.

Dorama Jepang
1. Long Vacation
2. Love Generation
3. Suzuran
4. Perfect Love
5. Strawberry On The Shortcake
6. Kamisama
7. Beautiful Life
8. Beach Boys
9. You’re My Madonna
10. Love 2000
11. Forbidden Love
12. Great Teacher Onizuka

Movie (Film Lepas) Mandarin

1. Time and Hide
2. Fly Me To Polaris
3. The Avenging Fist

Drama Seri Mandarin
1. Silence
2. The Outsiders
3. Star Blue
4. Sonic Youth
5. Meteor Garden I
6. Mars
7. Farewell FireFly
8. 100% Senorita Twins
9. MVP Lovers
10. Proud Twins
11. Wind and Cloud

Penyanyi Korea

1. Bo A
Penyanyi satu ini tidak perlu dibahas tentang kepopulerannya pada tahun 2000an. Lagunya menjadi hits di negara-negara Asia termasuk Jepang, selain bahasa Korea ia juga fasih bahsa Jepang dan Mandarin. You’re Still My Number 1!
2. Kangta T.O.P
Kalau di Reply 1997 tokoh utamanya mengidolakan Tony Ahn T.O.P maka saat itu saya sangat mengidolakan Kangta T.O.P.  Lagu Kangta yang jadi favorit saya adalah Propose. Seorang teman mengingat saya ketika melihat Reply 1997, ah jadi terharu :’)
3. T.O.P
4. S.E.S
5. Fink KL
6. T.T.M.A

Penyanyi Jepang

1. Utada Hikaru
Utada merupakan salah satu penyanyi yang saya koleksi albumnya. Sesuka apapun saya pada penyanyi kalau nggak suka banget, juga ngga akan bela-belain beli kaset. Tapi untuk Utada Hikaru, saya memberikan pengecualian karena memang saya cocok sama lagu bahkan liriknya. Dari dulu saya suka dengan lagu dengan tagline “Tokyo” dan ada satu lagu nya yang berjudul Tokyo Night yang merupakan salah satu lagu favorit saya.
2. Ayumi Hamasaki
3. Smash
4. V6
5. Do As Invinity
Lagu-lagu  DAI banyak mengisi OST dorama dan anime, jadi wajar kalau saya memasukkannya sebagai penyanyi yang saya sukai saat itu.
6. Kat-Tun
7. Laruku
8. Hirai Ken

Penyanyi Mandarin

1. Wang Lee Hom
Sempat menjadikannya salah satu icon idola saya, sampe punya satu buku besar dan isinya semua artikel berita yang berisi tentangnya. Dan saya menyadari sekarang, rasa suka itu sebenarnya agak dipaksakan karena saya ingin fokus pada satu hal (satu idola), sayangnya tidak bisa. Waduhh, saya benar-benar mengerikan! haha
2. Jay Chou
Nah ini nih, meskipun saya tidak terlihat sangat menyukainya tapi lagu-lagunyalah yang mengisi kaset rekaman saya. maklum saya hidup di desa dan sangat sulit untuk beli kaset aslinya, jadi biasa merekam lagu-lagu favorit dengan kaset kosong.
3. Vic Chou
Salah satu personal F4 yang paling saya suka suaranya dan sempat mengeluarkan album solo.
4. F4
Hoo, siapa sih yang nggak tahu F4 di tahun 2000an? Serial ini meledak di seluruh Asia saat itu dan menjadikan para pemainnya sebagai idola Asia.
5. 5566
Saya pikir 5566 tidak kalah keren dari F4, serialnya MVP Lover juga lumayan terkenal.

Kalau saya baca lagi tulisan di atas, ternyata banyak hal yang saya sembunyikan dulunya. Sesuatu yang sepertinya saya sangat suka, bisa jadi sebenarnya biasa saja. Dan sebaliknya, saya sangat suka tapi memilih untuk menyukainya diam-diam. Ternyata kebiasaan ini tidak hanya ada di kehidupan cinta saya tetapi juga mempengaruhi cara saya menyukai berbagai macam hal yang berbau Asia Timur. Eh kok malah curhat, uppsss! hahaha